webnovel

Emerald Flocken

"Jadi kekuatan itu memang ada?" Hidup didunia yg bisa dibilang seperti mimpi ini, membuat ia bertanya-tanya, Apa gunanya ia memiliki kekuatan? kekuatan macam apa itu? Apakah itu benar-benar kekuatan atau hanya sebuah skill? Dan belum lagi ia akan mendapatkan masalah-masalah besar yg harus ia selesaikan. Keinginan Leyvana saat ini hanya satu yaitu hidup seperti batu Zamrud yg melambangkan Kedamaian, Keamanan dalam menjalani hidup, dan juga Kesetiaan dari orang-orang di sekitar. Namun…Inilah awal yg baru dari kehidupan itu. Ini bukan soal kekuatan, tetapi soal takdir kehidupan. Apapun bisa terjadi di 'DUNIA' ini…

Ficheesezz · Teen
Not enough ratings
6 Chs

01 ~ New Friend

Setelah berjalan melewati beberapa ruangan, akhirnya leyvana menemukan ruang kelasnya. Tapi ternyata saat ia mengintip sedikit kedalam kelas itu, ternyata sudah ada guru yg masuk. Dengan nafas berat, leyvana memberanikan diri sebelum membuka pintu kelas itu. Ia siap jika harus mendengar omelan untuk ke-2 kalinya pagi ini. Sebelum itu leyvana mengetuk pintu terlebih dahulu. TokTokTok…

"Permisi buk, maaf saya telat,"

Sang guru yg sedang asik menjelaskan sesuatu itu segera menoleh kearah pintu masuk tempat leyvana berdiri. Tetapi anehnya, bukannya langsung mengomelinya, guru itu malah diam sejenak memperhatikan leyvana. Bukan sedetik atau dua detik tetapi sekitar 2 menit guru itu memperhatikannya. Itu hal yg aneh dan canggung menurut leyvana.

"Kamu masuk dikelas ini?" tanya guru itu setelah selesai memperhatikan leyvana. Anehnya bukannya marah tetapi malah guru itu bersikap biasa saja. Sedikit bingung itulah yg leyvana rasakan saat ini. Ia mencoba berpikir positif mungkin saja karna hari pertama masuk jadi masih dimaafkan oleh guru itu. Ia sekarang masih di ambang pintu kelas itu namun di bagian dalam kelas.

"I-iya buk, saya minta maaf karna saya telat buk," jawab leyvana.

"Yasudah tak apa, silahkan duduk cari saja bangku yg kosong, ohiya siapa nama kamu?" ujar sang guru.

"Baik buk terimakasih, nama saya Leyvana," ujarnya. Leyvana sedikit lega. Ia langsung mencari bangku kosong.

Hanya tersisa 1 bangku di samping seorang gadis. bangku itu berada di barisan ketiga dan berada di dekat jendela kelas. Kursi-kursi dan meja di kelas ini memang dibuat berdua-berdua. Tak pikir lama, leyvana pun langsung duduk dibangku itu. Saat sang guru melanjutkan penjelasannya, Gadis disamping leyvana ini mencuri perhatiannya. Gadis itu memiliki wajah yg cantik namun tegas dengan rambut sebahu sedikit curly dengan warna sedikit AshBlode di beberapa helai rambutnya dibagian depan. Melihatnya saja leyvana sudah tau, gadis ini sepertinya pendiam. Ia pun memberanikan diri untuk berbicara pada gadis itu.

"H-hai, nama lo siapa?" tanya leyvana sedikit kikuk.

"Eiv." jawab gadis disebelahnya singkat,padat, dan jelas tanpa menoleh kearah yg bertanya.

"O-oh, kalo gw leyvana biasa dipanggil leyva. Salam kenal ya" Leyvana pun mengulurkan tangannya.

Sedari tadi menopang dagu dengan tangan nya, akhirnya gadis yg bernama Eiv itu menoleh kearahnya dan membalas jabattangan leyvana.

"Ya, salken juga"

"Btw, nama ibu itu siapa ya? Dia tadi jelasin materi apa?" tanya leyvana.

"Itu bu Cahya, tadi sih cuma perkenalan, sekarang gatau ibu itu ngejelasin apaan," dari jawaban Eiv ini, sudah jelas pasti ia bosan dan mengantuk tidak mendengar apa yg bu Cahya itu jelaskan. Tetapi Leyvana terus berkonsentrasi mendengarkan apa yg dikatakan guru itu. Bukannya mendapatkan apa yg dikatan guru itu, Leyvana malah ikut mengantuk. Suara bu Cahya yg bisa dibilang kecil itu menjadi seperti musik pengantar tidur di telinga beberapa siswa dikelas itu, termasuk Leyvana.

Setelah terjebak diwaktu-waktu yg membosankan. bu Cahya pun mengakhiri kelas. akhirnya para siswa dan siswi bisa beristirahat. Ada yg langsung pergi kekantin karena sudah menahan lapar sedari tadi, dan ada juga yg tetap dikelas. Ditempat duduknya, leyvana merenggangkan tubuhnya, ia merasa pegal setelah duduk berlama-lama. Disampingnya, Eiv juga tidak beranjak dar kursinya, ia sibuk memainkan ponsel miliknya. Namun, tiba-tiba ada beberapa gadis yg menghampiri meja mereka.

"Halo kalian berdua, mau gabung sama kami kekantin?" ajak salahsatu gadis berkuncir dua.

"Emm…hai nama gw…Eehh…"

"Udah nanti aja kenalannya, ayo ikut kami biar rame," belum selesai Leyvana menjawab. Tangannya sudah ditarik oleh gadis itu. Reflek, ia juga langsung menarik tangan Eiv yg sedari tadi tidak peduli ada orang dan tentu saja itu membuat Eiv terkejut.

——————

Keadaan di kantin sekolah saat ini bisa dibilang ramai. Semua terlihat sibuk dengan circle masing-masing. Ada yg asik mengobrol, makan, minum, dan sebagainya, banyak siswa-siswi baru disitu,mereka juga penasaran seperti apa dan apasaja makanan dan minuman yg ada dikantin itu, bahkan tak sedikit pula para guru yg sedang beristirahat dari mengajar disitu. Di sebuah meja terdapat tujuh orang gadis yg sedang asik mengobrol sambil menikmati makanan mereka masing-masing. Ya, mereka adalah Leyvana dan para gadis yg mengajaknya tadi.

"makanan disini enak juga ya." ucap salahsatu gadis yg memiliki rambut lurus sepinggang dengan poni sealis yg rapi.

"Iya, kata kakak kelas yg gw kenal emang makanan disini enak-enak. makanya gw ngajak kalian kesini, daripada tadi dikelas doang kan suntuk juga," ucap salahsatu gadis lagi.

"Lo…baru masuk ada kenal sama kakak kelas?" tanya gadis yg duduk disebelahnya.

"Iya hehe…eh btw kita belum kenalan sama mereka berdua ini."

Seketika gadis yg tadi mengajak Leyvana kekantin, reflek menyemburkan minuman yg sedang ia minum.

"Lo kenapa?"

"Kena muka gw anjir, lebay amat."

"Sorry." gadis berkuncir dua itupun menoleh ke arah Leyvana yg kebetulan duduk disampingnya.

"Hehe…maaf ya kami lupa kenalan sama kalian berdua, ngomong ngomong gw Layza," ucap gadis itu sambil menyengir.

"Oh iya, salken, gw Ochi, ini yg kena mukanya sembur tadi Mayra, Ini Faaza, dan Kana." Ucap gadis yg bernama Ochi itu sambil menunjuk ketiga temannya.

"Gw Leyvana, panggil aja Leyva dan ini Eiv, salken ya semua." Ujar Leyvana.

"kalian…kayaknya sudah akrab ya" lanjutnya lagi.

"Ya…kami memang sudah saling kenal dari sekolah sebelumnya," jawab Faaza yg akhirnya bersuara. Dan pada akhirnya mereka pun saling mengobrol.

Pada saat sedang mengobrol, Leyvana memperhatikan satu persatu teman barunya. Eiv sipendiam dingin seperti AC, Layza si periang, Ochi si anggun yg memiliki gaya rambut ala Headband Braid, Mayra si cantik yg sedikit lebih tinggi daripada yg lain dengan gaya rambut dikuncir ala Ponytail, lalu Faaza, gadis dingin tetapi sepertinya tidak sedingin karakter Eiv, dan yg terakhir Kana gadis yg sepertinya pemalu ini bisa dibilang imut dengan rambut yg sedikit coklat,

lurus sepinggang dengan poni sealis yg rapi dan bibir yg mungil. Secara taksadar seutas senyum terukir di bibir Leyvana.

——————

Siang berganti malam. Matahari berganti bulan. Udara malam membuat atmosfir yg ada menghembuskan semilir angin malam yg sejuk. CityLight yg diciptakan dari geremlap bangunan-bangunan tinggi dan berbagai macam aktivitas yg ada menghiasi keindahan kota pada saat malam itu.

Di apartmentnya, Leyvana sedang berbaring di tempat tidurnya. Saat ini, jam masih menunjukan pukul 20.30 malam. Sebenarnya ia ingin tidur lebih cepat atau lebih awal dari biasanya. Akan tetapi, otaknya tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu. Ya, ia memang selalu ber Overthingking tanpa alasan yg jelas. ia sedang memikirkan apasaja yg terjadi padanya saat di sekolah hari ini. Mulai dari keterlambatannya sampai saat ia mendapatkan teman. Leyvana masih tak percaya ia menemukan teman dengan cepat dilingkungan baru itu. Bukannya tidak senang, tetapi Ia memang tidak terlalu pandai bersosial, apalagi dilingkungan baru seperti ini. Dan, setiap kali ia ingin bersosial ia takut akan penilaian buruk orang-orang terhadapnya, ia takut dianggap remeh, atau bahkan tidak diterima oleh orang-orang disekitanya atau dalam berbagai situasi sosial. Olehkarna itu, terkadang ia lebih memilih menjadi introvert saja dari pada semua rasa takut akan terjadi. tetapi, kali ini semua rasa takut yg selalu muncul didalam bayang-bayangnya bisa Leyvana lawan. Ia harus mencoba, mengabaikan rasa takutnya.

"Apa mereka bakal ninggalin gw seperti 'dia' dulu. Apa gw bisa jaga pertemanan ini? Apa mereka bakal menghianati gw? Atau malah sebaliknya?" Leyvana sibuk dengan batinnya sendiri. Banyak hal yg muncul di benaknya. Tanpa terasa, ia pun tertidur, melepas kehidupan nyatanya untuk sementara waktu dan menuju ke alam bawah sadarnya.

BERSAMBUNG.....