webnovel

Your Presence

Ketika fisik sudah tidak mampu untuk bertahan lagi, harapan terakhir agar diri tak menggila hanyalah pada batin dan akal sehat. Namun, bagaimana jika akal sehat sudah mulai tak bisa diajak untuk berkompromi lagi? Adit, sebagai contoh dari sekian anak yang merasa kurang beruntung akibat menjadi korban dalam kekerasan rumah tangga orang tuanya. Menjadi sasaran empuk kala sang Ayah dan Ibu tengah lelah karena perkerjaan mereka, bahkan membuat Adit sudah sangat lelah untuk terus bertahan di dunia yang begitu kejam untuknya. Nurani sudah menghilang, batin pun mulai berbisik agar enyah dari dunia yang kejam ini. Mengakhiri hidup mungkin, menjadi akhir kisah Adit yang begitu kelam. Agar ia bisa lepas dari kedua orang tua nya yang tak menginginkannya untuk terlahir ke dunia ini. Namun .... "Kalo mau bunuh diri jangan di sini, Aa ganteng!" Suara khas sang gadis yang terus menggema, mengganggu pikiran Adit hingga akal sehatnya perlahan kembali membaik. "Siapa dia? Mengapa aku selalu memikirkannya?" Akankah, Tuhan mempertemukan Adit dengan gadis yang berhasil mencegah dirinya untuk mengakhiri hidupnya itu? Atau, kah sebaliknya? Apakah Adit akan mendapatkan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sejak berusia 5 tahun hingga sekarang?

AQUELLA_0803 · Urban
Not enough ratings
278 Chs

Masalah Selesai.

"Damar? Kamu Damar temen SMA aku 'kan?" tanya Oliv.

"Iya, aku Damar. Bagaimana keadaanmu, sehat? Hubungan mu dengan Bram lancar 'kan.." jawab Damar.

Oliv langsung terdiam saat mendengar nama Bram, pria brengsek yang menghamilinya dan kabur karena tidak ingin bertanggung jawab atas kehamilan Oliv. Damar yang melihat ekspresi Oliv, langsung memegang bahu gadis cantik itu.

"Oliv, bagaimana kabarmu?" tanya Damar lagi.

"Kabar ku baik, dan hubunganku dengan Bram sudah selesai.." jelas Oliv.

Damar mengangguk dan tersenyum manis kearah Oliv, Adit membuka kedua matanya. Saat melihat sang adik sudah membuka kedua matanya, Oliv langsung menghampiri Adit.

"Kak Oliv," ucap Adit lemas.

"Dek, kamu akhirnya sadar. Mana yang sakit sayang, kasih tau Kakak.." jawab Oliv yang khawatir akan adiknya.

Adit tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia menatap kearah Damar yang tengah berdiri di sampingnya. "Kak Damar 'kan?" tanya Adit.

"Ternyata kamu sudah besar, Dit.." balas Damar.

"Tentu, Kak. Bagaimana kabar Kakak?" tanya Adit lagi.

"Kabar saya baik, dan bisa lihat sekarang. Saya makin subur, berat badan sudah bertambah. Tidak seperti waktu SMA kurus seperti tulang.." sambung Damar sambil terkekeh pelan.

Oliv yang mendengarnya ikut terkekeh, kemudian Oliv teringat tadi dia pergi bersama Putri. Ia melihat kearah luar ruang UGD dan tak menemukan Putri.

"Kamu mencari temanmu ya?" tanya Damar.

"Iya, kamu melihatnya Damar?" tanya Oliv.

"Dia lagi bertemu seorang, Dokter. Biasa check up.." jelas Damar.

Oliv mengerutkan keningnya, karena tidak paham dengan ucapan Damar. "Maksudnya?" tanya Oliv.

"Dia itu memiliki pe---,"

Ucapan Dokter Damar terhenti saat seorang perawat menghampirinya dan memberikan data-data pasien. Damar menatap Oliv dan berpamitan pada Kakak beradik itu, ia melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.

.

"Kamu harus menjalankan transplantasi ginjal, karena saya tidak menjamin ginjal kamu akan tetap baik-baik saja. Sudah 2 tahun kamu cek up, dan ginjal kamu semakin memburuk. Saya harap kamu segera tanda tangani surat persetujuan ini untuk melakukan transplantasi ginjal.." jelas Dokter.

Putri terdiam dan menatap surat izin tersebut, ia menghela napasnya kemudian menyimpan surat tersebut. "Saya akan membawa pulang surat ini, jika sudah saya tanda tangani. Saya akan memberikan pada Dokter.." jawab Putri.

"Baiklah, kamu jangan pikirkan tentang biaya operasinya. Saya yang akan menanggung biaya tersebut, jika kamu tidak mau menerima bantu saya. Ada Dokter Damar yang ingin membiayai operasi dan pengobatanmu.." jelas sang Dokter.

"Terimakasih, Dok. Saya permisi dulu.." jawab Putri.

Gadis itu keluar dari ruangan dan terduduk di kursi depan ruang dokter spesialis ginjal. Damar memegang bahu Putri dan tersenyum pada gadis cantik itu.

"Kapan operasinya?" tanya Damar dengan lembut.

"Saya belum tau, Dok. Saya akan menabung uang terlebih dahulu, karena gaji saya tidak terlalu besar. Sudah 2 tahun saya kumpulkan masih banyak yang harus saya cari.." jelas Putri.

"Masalah biaya, jangan dipikirkan. Ada saya yang akan membantu membayar biaya pengobatanmu.." sambung Damar.

"Tidak, Dok. Terimakasih banyak, tapi saya tidak ingin merepotkan orang lain. Saya bisa berusaha sendiri," balas Putri.

"Baiklah, saya akan menghargai keputusanmu. Tapi jika terdesak cari saya," sambung Dokter Damar.

Putri mengangguk dan tersenyum, Dokter Damar menepuk pelan bahu Putri kemudian masuk ke dalam ruangan spesialis ginjal. Karena ada yang harus ia bicarakan dengan dokter spesialis tersebut.

.

"Kak, bisa ambilkan ponsel milikku?" tanya Adit.

"Dimana?" balas Oliv.

"Di dalam jas itu, Kak.." jawab Adit.

Oliv mengambil jas yang terletak di meja, ia mengambil ponsel milik adiknya dan memberikan pada Adit. "Ini sayang.." ucap Oliv.

Adit mengambil ponsel tersebut dan tersenyum kearah sang Kakak. "Makasih ya, Kak.." jawab Adit.

Pria itu membuka kunci layar ponsel-nya, dan terkejut saat melihat sang kekasih sudah banyak menghubunginya. Dari menelpon hingga mengirim pesan di whatsapp.

"Adit, Kakak pulang dulu ya. Nanti Kakak kesini, takut nanti ada Mama sama Papa. Kakak gak mau ketemu sama mereka, karena jika bertemu mereka anak Kakak gak akan aman.." jelas Oliv.

"Iya, Kak. Nanti kalau mereka gak kesini, Adit kabari..." balas Adit.

"Ya sudah, Kakak pulang ya. Bi kalau terjadi sesuatu langsung kabari aku ya. Nomer baruku sudah ada di ponsel Adit.." ujar Oliv.

"Iya, Non.." jawab asisten rumah tangga.

Cup.

Oliv mencium kening sang Adik dan mencium punggung tangan asisten rumah tangganya. Ia berjalan keluar ruangan, dan mencari-cari keberadaan Putri. Ingin sekali mencari gadis itu sampai ketemu, namun ia takut orang tuanya melihatnya disini. Oliv memutuskan untuk mengirim pesan pada Putri bahwa dia akan pulang lebih dulu karena lelah. Putri membalas dengan jawaban 'baiklah' akhirnya Oliv pun pulang.

***

Ting

Ting

Ting

Suara notifikasi pesan masuk, membuat Putri langsung mengambil ponsel-nya kembali. Terlihat disana Adit membalas pesan Putri.

'Maaf sayang, aku baru memberimu kabar. Aku baik-baik saja kok, jangan khawatir yaa..'

'Nanti kita ketemu ya, aku akan menjemput mu..'

'Aku sakit sayang, mau gak datang ke rumah sakit untuk menjaga ku?..'

Putri terkejut saat membaca pesan terakhir dari kekasihnya. Ia langsung membalas pesan tersebut, untuk bertanya kekasihnya ada di rumah sakit mana. Setelah mengetahuinya, Putri langsung berlari kearah ruang UGD karena kebetulan ia ada di rumah sakit tersebut.

Putri masuk ke ruang UGD dan mencari keberadaan Adit. Seketika ia langsung memeluk Adit yang tengah duduk lemas di atas brankar rumah sakit.

"Kamu sakit apa, Kak? Semalem kok gak kabarin, aku khawatir tau.." ucap Putri sambil memeluk erat tubuh Adit.

Pria itu membalas pelukkan Putri dan terkekeh pelan melihat kekasihnya yang khawatir padanya. "Maaf, semalam aku tidak memegang ponsel..." jawab Adit.

Asisten rumah tangga Adit hanya tersenyum melihat tuan mudanya terlihat bahagia bersama gadis yang ada di pelukkan. Cukup sulit mendapatkan senyuman lepas dari Adit, dan saat ini ia melihat Adit disaat berumur 4 tahun yang selalu tersenyum padanya.

"Kakak udah makan? Udah minum obat?" tanya Putri.

"Udah sayang, baru aja selesai. Kamu udah makan? Kok cepet banget sampai kesini?" balas Adit.

"Ah, aku kebetulan ada disini. Jadi langsung lari ke ruang UGD..." sambung Putri.

"Kamu lari? Ya ampun untung gak jatuh, besok-besok gak boleh lari ya.." jawab Adit mengusap lembut pipi Putri.

"Ehehe, iya gak lagi deh.." jawab Putri sambil memperlihatkan gigi putihnya.

Putri menyalami tangan asisten rumah tangga Adit dan memperlihatkan senyum manisnya. "Halo, tante.." ucap Putri.

"Eh, kok tante. Panggil bibi sayang.." jawab asisten rumah tangga Adit.

"Iya, bi. Nama bibi siapa?" tanya Putri.

"Nama bibi Siti, cantik.." balas Bi Siti.

"Saya Putri, bi. Salam kenal yaa.." sambung Putri.

"Salam kenal kembali, oh iya bisa jagain Tuan muda dulu gak? Bibi mau ke toilet.." ujar Bi Siti.

"Bisa bi," balas Putri.

"Yaudah, bibi ke toilet dulu ya.."

Bi Siti pun melangkahkan kakinya keluar dari UGD., sedangkan Adit sedari tadi asik menatap Putri yang menatap kepergian Bi Siti. Gadis itu langsung menghampiri Adit dan mencubit pelan pipi pria tampan itu.

"Kenapa liatin aku?" tanya Putri yang tersenyum manis.

"Kamu cantik," balas Adit.

"Makasih, sayang.." jawab Putri.

Gadis itu duduk di kursi yang terletak di samping brankar. Ia memegang tangan Adit, kemudian pria itu malah menggenggam erat tangan kekasihnya.

"Wajah kamu banyak memar," gumam Putri.

"Hm, tapi gak sakit kok kalau udah ada kamu.." jawab Adit.

"Jadi kalau gak ada aku sakit?" tanya Putri.

"Sakit banget," jawab Adit.

Putri mencubit pelan punggung tangan kekasihnya karena menurutnya ucapan Adit itu hanyalah gombal semata. "Jangan gombal, gak baik untuk kesehatan jantung.." ujar Putri.

"Ehehe, sayang cium dong.." ucap Adit.

Putri terkejut dengan permintaan kekasihnya. Bagaimana caranya mencium Adit, kalau di ruang UGD ini bukan hanya ada dia saja. Banyak pasien lain disini, apalagi jika Adit ingin ciuman pasti selalu ingin bibirnya bukan bagian lainnya.

"Yang, rame.." jawab Putri.

Adit menutup tirai, agar tidak ada yang melihat adegan ciumannya. "Udah gak keliatan.." sahut Adit.

Gadis itu hanya bisa pasrah, Putri mendekatkan wajahnya ke wajah Adit. Pria itu pun menautkan bibirnya dan bibir Putri mereka berciuman. Putri tentu membalas ciuman tersebut, dan ciuman mereka terhenti saat ponsel Adit berdering.

"Aish menganggu saja.." ketus Adit mengelap bibir Putri yang basah.

"Tunggu ya sayang," ucap Adit.

Putri mengangguk dan mengelap air di sudut bibir Adit dengan lembut, sedangkan Adit mengangkat telepon dan mencium punggung tangan Putri.

"Yasudah, besok saya kerjakan.." balas Adit.

Pria itu mematikan panggilannya dan menatap Putri dengan lekat. Gadis itu mengusap rambut Adit dengan lembut, dan membantu pria tersebut untuk berbaring.

"Istirahat ya," ucap Putri mengecup kening Adit.

Pria itu mengangguk dan memejamkan kedua matanya. Putri membuka ponsel dan tidak sengaja melihat artikel yang telah menfitnah Adit semalam sudah dihapus, dan para media sudah meminta maaf pada Tuan Dimas. Nama Adit pun sudah bersih dari kasus kekerasan itu.

"Syukurlah sudah selesai.." gumam Putri.

.

Tuan Dimas dan Nyonya Winda tengah menatap tajam kearah Sinta dan Bimo. Sedangkan kedua orang yang ditatap hanya bisa menundukkan kepalanya.

"Bagaimana? Sudah sebanyak apa kalian mendapatkan simpati dari warga lain?" tanya Tuan Dimas.

"Maaf, Pak..." ucap Sinta.

Tuan Dimas tertawa sinis, dan mencengkeram erat wajah Sinta hingga memerah. Nyonya Winda menatap tajam Sinta, karena dari awal ia juga tidak suka dengan gadis itu.

"Jadi cewek jangan murahan, jangan fitnah orang yang sudah kau manfaatkan! Kau mau uang? Kerja!" bentak Tuan Dimas.

"Jangan pernah memanfaatkan keluargaku demi mendapatkan uang! Tidak kreatif sekali otakmu!" bentak Tuan Dimas.

"Dasar murahan!" Ketus Nyonya Winda.

Tuan Dimas mendekati Bimo dan menampar wajah pria itu. "Jangan menganggu keluarga ku!" bentak Tuan Dimas.

"Jika aku tau kalian mengusik lagi, mati kalian ditangan ku!" sambung Tuan Dimas.

.

To be countinued.