1 Reinhart, lelaki misterius.

Suara sorakan para wanita, terdengar jelas. Mereka tergila - gila, pada satu lelaki, yang sangat tampan. Lelaki itu berjalan menyusuri mereka, dengan temannya. Ia masuk ke kelas, lalu duduk. Dia bernama Reinhart Lutherford. Dia tidak pernah tenang. Cewek - cewek di sekolahnya, sangat berisik. Kadang, ada guru yang pilih kasih padanya. Itu membuatnya kesal. Selain tampan, ia afalah penerus dari keluarga Lutherford, yang sangat kaya raya. Keluarganya memiliki perusahaan dengan cabang di setiap negara. Walaupun begitu, orangtuanya, sangat menyayanginya. Mereka tidak melakukan perjodohan padanya. Apapun keputusan Reinhart, asalkan baik, mereka mendukung. Mereka satu - satunya yang disayangi Reinhart. Reinhart kemudian keluar dari kelas, menuju atap. Ia seperti biasa, tidur - tiduran, sambil menunggu bel pelajaran berbunyi. Namun, hari ini berbeda. Ia membuka pintu atap, dan melihat seorang pria disana. Tampangnya lumayan, ia tak memakai seragam murid. Mungkin guru baru. Itulah pikiran Reinhart. Ia menyapa pria itu, namun pria itu mendekat pada Reinhart. "Kau, Reinhart Lutherford?" Reinhart awalnya curiga, bahwa ia adalah orang yang diutus musuh ayahnya, untuk menghabisinya. Namun, kecurigaannya hilang, ketika melihat pria itu, memakai sebuah yukata tradisional. "Ya, siapa anda?" Reinhart kembali bertanya. "Aku? Kalau kukatakan kau akan percaya?" Reinhart menjadi kebingungan, dan pria itu mendadak menunduk, dan bersujud. "Tuan, ini aku." Reinhart semakin kebingungan. Apa maksudnya? "Berdirilah, tak perlu sujud padaku, aku hanya bocah biasa..." Reinhart menjadi tegang. Pria itu terkejut mendengar perkataan Reinhart. Ia berdiri. "Tuan, tidak ingat?" Pria itu nampak kecewa, sekaligus khawatir. "Ah, mungkin. Sebenarnya, aku pernah mengalami Amnesia..." Wajah pria itu semakin kaku. Ia berpikir sebentar. Ia kemudian mundur, dan mengulutkan tangannya. Seketika, cuacanya mrnjadi mendung. Suara petir menyambar teredengar jelas. Angin kencang, memvuat tubuh Rrinhart menjadi dingin. Ia kebingungan, sekaligus ketakutan. Namun, ia terkejut melihat pria itu, tak berkutik sedikitpun. Ia tetap dengan posenya, dengan wajah seriusnya. "Tuan, ah tidak. Kau harus percaya perkataanku." Reinhart mengangguk, dan terkejut, melihat angin menyelimuti pria itu. Dalam waktu sekejap, pria itu berubah wujud, menjadi seekor singa putih. Namun, itu wujud lainnya. Wujud manusianya masih bergerak. "Tuan, aku adalaj siluman singa putih. Aku adalah siluman terkuat, setelah elang api, ular putih, rubah putih berekor sembilan dan naga biru. Siluman memiliki dua wujud ketika berubah. Wujud hewan, dan wujud manusianya. Namun, ketika ia menunjukkan wujud silumannya, warna mata pada wujud manusianya akan berubah. Seperti yang kau lihat padaku, mataku berubah menjadi biru." Reinhart terpaku, ketakutan. Ia tak percaya akan apa yang dilihatnya. "Apaan ini, ini pasti mimpi." Pria itu mengulurkan tangannya. "Ini bukan mimpi. Tuan, adalah siluman, tuan bukanlah manusia. Wujud tuan sebenarnya, adalah siluman rubah putih berekor sembilan. Anda sangatlah kuat." Kata - kata pria itu terhenti. Ia teringat akan sesuatu. Reinhart masih tak percaya. "Aku tak percaya! Aku bukan siluman!" Namun, ia melihat pria itu, dan juga teringat sesuatu. Akhir - akhir ini tersiar kabar. Pembunuhan berantai, di sekitar rumahnya. Namun, ada kabar bahwa pembunuhan itu tidak dilakukan oleh manusia, tetapi siluman dan iblis. "Aku tidak jahat..." Pria itu menatap Reinhart. "Tidak semua siluman jahat. Siluman yang bekerja dibawah iblis, adalah siluman yang membantai manusia. Tetapi siluman yang bekerja dibawah para dewa, adalah siluman yang baik. Kami mempunyai misi, dan misi itu diserahkan padamu tuan. Itulah alasan, kau bereinkarnasi. Namun, sepertinya ingatan tuan tidak baik." Reinhart menjadi sangat marah. "Jika memang begitu, mengapa para siluman baik tak menghalangi pembantaian ini!?" Reinhart mengeluarkan seluruh emosinya. "Karena, tugas itu ada padamu tuan. Tanpa tuan, para manusia akan punah. Termasuk orang tuamu. Tapi, sebenarnya..." Ia terdiam, dan menggelengkan kepala. "Saatnya kau menjalankan tugasmu, tuanku." Dalam seketika, salju turun dari atas langit. Para murid heboh, melihat cuaca ini. Rintik salju mengelilingi Reinhart. Rambutnya berubah menjadi warna putih, matanya menjadi merah menyala. Ia melihat wujudnya yang lain. Rubah berekor sembilan. Bulunya lebat, dan berwarna putih. Matanya merah menyala. Ia besar, dan gagah. Rubah itu menunduk pada Reinhart. "Terima kasih, sudah mau menyelamatkan kita semua." Rubah itu merasa tersanjung. Ia adalah siluman Reinhart. Reinhart melihat sebuah telinga di kepalanya, dan ekor di bagian belakangnya. Pakaiannya berubah menjadi pakaian bangsawan. Ia berpikir, untuk menyelamatkan dunia ini. "Aku, akan membunuh mereka." Namun, pria itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, jangan dulu. Bukan itu perintah dewa. Kau harus menemui mereka terlebih dahulu. Setelah itu kau akan tahu.