1 Terpuruk

Hujan deras dengan petir menggelegar membuat suasana malam itu makin mencekam. Manda menangis terisak karena suami yang pernah dicintainya mengusirnya begitu saja dari rumah setelah ia kembali dari rumah sakit pasca keguguran.

Sang suami membawa ikat pinggang kulit yang ia lilitkan pada genggaman tangan kanannya dan membiarkan terjuntai hingga ke lantai. Adam, sang suami sudah bersiap melakukan aksi kekerasannya lagi jika sang isteri tidak menurut.

"Hiks, kau tega sekali Adam, hiks.. aku kehilangan anak pertamaku.. KARENA PERBUATANMU! Dan kini kau malah mengusirku karena jalang disampingmu itu, huh?!" teriak Manda yang sudah tak bisa menahan emosi terpendamnya selama ini.

TAP.. TAP.. PLAKK! "Agh.."

Adam menampar isterinya dengan sangat kuat hingga Manda jatuh terkapar di atas lantai. Selly hanya tersenyum miring duduk di sofa panjang mengamati pertunjukan seru itu dengan kaki menyilang.

"Sudahlah Manda. Kau pergi saja. Adam tak pernah mencintaimu. Dia terpaksa menikahimu karena desakan orang tuanya saat itu demi membalas budi keluargamu." Ucap Selly santai.

Manda memegangi pipinya yang sakit. Ia berkerut kening dan mulai meneteskan air mata.

"Jika kau tak mencintaiku, kenapa kau menikahiku? Dulu kau bilang kau sangat menginginkanku.. berjanji tak akan menduakanku, tapi nyatanya.. hiks.. kau pembohong Adam. Kau seorang munafik! Aku sangat kecewa padamu.. hiks.." tangis Manda lagi dengan air mata tak terpendung merasakan sakit hati yang mendalam dalam dirinya.

TAP.. TAP.. TAP.. BUKK! "Agh.. uhuk.. uhukk.." Adam menendang perut Manda sangat keras.

"DIAM!" teriak Adam dengan mata melotot dan kepalan tangan di kedua tangannya menahan amarah.

"Kau harusnya berterima kasih padaku. Kau ku biarkan hidup disampingku. Kau ku beri makan, ku biarkan tinggal bahkan aku memberikanmu uang. Sebaiknya.. KAU CEPAT PERGI DARI SINI DAN JANGAN KEMBALI LAGI!" Teriak Adam menggelegar seirama dengan petir yang menyambar di langit malam itu.

Manda makin menangis terisak. Tubuhnya lunglai, ia kesakitan. Manda berusaha bangun dengan susah payah. Ia memegangi perutnya yang sakit dan mencoba berdiri tegak.

BRUUKK. Adam melemparkan sebuah tas padanya.

"Itu semua barang yang kau miliki saat pertama kali datang kesini. Aku berbaik hati memberikanmu sejumlah uang dalam tas itu. Pergilah. Jangan pernah muncul kembali di hadapanku. Jika sampai kau berani melakukannya, aku tak segan akan membunuhmu, seperti aku membunuh bayimu." Ucap Adam penuh penekanan dengan sangat keji.

Manda membungkam mulutnya. Ia tak percaya Adam begitu keji padanya. Manda menangis terisak sambil mengambil tasnya. Ia mengangkatnya sekuat tenaga. Ia mencoba menguatkan hatinya tapi air matanya tak henti-hentinya menetes. Ia berusaha untuk tetap tegar.

"Cepatlah.. kau lelet sekali.." Ucap Selly meledeknya dan terlihat bosan.

Manda makin sakit hati, ia menatap Selly tajam. Selly terkejut.

"Sayang lihat. Dia melotot padaku. Apa dia bermaksud mengancamku?" rengek Selly terlihat ketakutan.

Adam menatap Manda seksama.

"Lihat saja, akan ku balas kalian. Nikmatilah hidupmu bersama wanita jalangmu, Adam karena.. itu tak akan lama. Aku akan kembali lagi, merebut semua kebahagiaanmu.. aku tak sudi kau perlakukan seperti ini. Persetan denganmu. Aku, benci, padamu." Ucap Manda penuh penekanan menatap Adam tajam.

Kembali, Adam mendatangi Manda dan BUAKKK! BRAKK! "Agh.. ahh.." Manda ditendang kuat di dadanya hingga dia mundur ke belakang beberapa langkah dan menghantam pintu utama mansion Adam.

Pintu itu bahkan sampai terbuka. Manda terkena cipratan dari derasnya hujan di luar. Ia mulai basah kuyup. Adam kembali mendatanginya dan menarik lengannya kasar.

Manda kembali menangis terisak dan merintih kesakitan. Adam mendorong Manda kuat hingga dia jatuh terkapar di halaman mansionnya. Kini air mata Manda sudah menyatu dengan tetesan air hujan. Adam sudah kehabisan kata-kata. Ia lelah memukul mantan isterinya dan mencambuknya dengan ikat pinggang ditangannya.

Adam berpaling begitu saja darinya dan langsung masuk ke dalam mansion. Selly sudah berdiri di depan pintu dan menyambut Adam dalam pelukannya. Adam memunggungi Manda yang sudah basah kuyup di halaman mansion dan tergeletak lunglai tak bertenanga. Ia begitu sedih dan sakit atas perlakuan suaminya. Selly menutup pintu dengan senyum liciknya.

Manda kini sendirian diluar. Ia mencoba berdiri sekuat mungkin dan berjalan keluar halaman mansion. Penjaga di luar sangat iba pada mantan Nyonya besarnya itu tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan saat satpam memberinya payung, Manda menolaknya. Para penjaga di mansion itu sangat sedih melihat Nyonya mereka diperlakukan tidak adil oleh Tuan besarnya.

Seorang pengusaha kaya raya yang tampan dan terkenal wibawanya dikalangan para pebisnis muda. Namanya melejit ketika menikah dengan Manda, anak konglomerat sebuah perusahaan telepon genggam. Manda dulunya CEO di perusahaan itu. Dia cantik dan pintar. Bahkan banyak lelaki yang memuja dan mengejarnya. Hingga suatu hari ayah ibunya meninggal dalam kecelakaan mobil saat akan kembali pulang. Manda sangat sedih.

Datanglah Adam dan orang tuanya ke kediaman Manda di California. Mereka menunjukkan itikad baik dengan menikahkan Adam dan Manda saat itu dengan menunjukkan sebuah surat perjanjian perjodohan antara orang tua Adam dan Mandy tanpa sepengetahuannya.

Adam terlihat sangat ramah dan baik padanya. Tentu saja Mandy tak langsung menerimanya tapi rayuan Adam mampu menghipnotisnya. Manda pun akhirnya bersedia menikah dengannya tanpa pikir panjang karena sebelumnya ia sudah mengenal orang tua Adam yang sangat baik padanya.

Ternyata ada maksud dibalik pernikahan itu. Adam berpura-pura mencintainya sedang ia sudah menyelingkuhi Manda dengan Selly sebagai wanita simpanannya. Adam juga membohongi orang tuanya. Mereka mengira Adam memang mencintai Manda. Terlihat Adam begitu perhatian padanya. Pernikahan pun berlangsung meriah dan mewah. Banyak tamu undangan yang hadir dan memberikan selamat.

Hingga akhirnya Adam melakukan dramanya. Ia membujuk agar Manda menjadi isteri yang baik di rumah. Memasak untuknya dan menunggunya pulang di rumah ketika ia lelah bekerja. Manda pun tanpa curiga sedikitpun percaya dengan maksud baik suami yang begitu menyayanginya.

Manda pun mempercayakan perusahaannya pada Adam. Bahkan tanpa Manda sadari, semua aset miliknya sudah diakusisi oleh Adam. Ia membalik nama semua kepemilikan Manda menjadi atas namanya. Saat Manda mengetahuinya tentu saja ia marah besar. Namun Adam masih bersabar dengan dramanya. Ia meyakinkan bahwa yang ia lakukan ini hanya untuk menjaga agar Manda aman.

Adam sengaja menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Manda tapi usahanya selalu gagal. Manda selalu lolos dari maut entah bagaimana caranya. Hingga akhirnya Manda hamil anak Adam. Sontak Selly, wanita Adam marah besar. Ia mengamuk dan mengancam akan meninggalkan Adam.

Selly adalah kekasih Adam semenjak kuliah. Ia sangat mencintai Selly bahkan rela mati untuknya tapi orang tua Adam tak pernah menyetujui hubungan Selly dan Adam karena latar belakang Selly yang buruk. Selly lahir dari seorang ibu yang bekerja sebagai PSK (Pekerja Seks Komersial). Mereka tinggal disebuah club mewah di Las Vegas.

Ibu Selly menjadi wanita simpanan para lelaki kaya hidung belang bahkan hingga sekarang. Tentu saja orang tua Adam tak pernah mengizinkan anaknya menikahi Selly. Namun rayuan Selly terlalu sulit untuk ditolak Adam. Ia pun terlena dan cinta mati dengan Selly. Ditambah orang tuanya malah menjodohkan dengan Manda, hal ini membuat Adam makin marah dan sakit hati.

Itulah latar belakang dan semua kerumitan ini terjadi. Manda menjadi korban atas apa yang tak ia ketahui. Kini ia sendirian, tak memiliki harta dan kerabat di luar sana. Kehidupan mewah dan kurungan Adam membuatnya kehilangan hubungan dengan para saudara dan kerabat keluarga lainnya. Manda berjalan jalan gontai menyusuri jalanan dalam gelapnya malam.

Hujan sudah berhenti, Manda lapar dan merasakan sakit disekujur tubuhnya. Badannya gemetaran, ia memeluk tasnya kuat hingga akhirnya ia menemukan sebuah bangunan tua kosong di tempat sepi itu. Ia masuk ke dalam yang ternyata tak terkunci. Manda merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk disana. Ia terlihat cukup nyaman dengan tempat tidur barunya. Perlahan matanya terpejam, ia tertidur disana.

***

Manda tertidur pulas di gedung yang terbengkalai itu. Tanpa ia sadari, segerombolan orang mendatanginya dan mengelilinginya. Salah satu ketua dari gerombolan orang-orang itu meminta agar Manda dibangunkan paksa.

BYURR! "Hahh.. hah.." Manda terbangun dan langsung gelagapan karena seseorang menyiramnya dengan segelas air.

Manda kaget setengah mati. Segerombolan wanita yang terlihat garang memakai jaket kulit dengan gaya punk itu menatapnya dengan wajah tengil. Manda ketakutan. Ia memegang erat tasnya. Seluruh tubuhnya gemetaran.

Salah seorang dari mereka menyeret sebuah kursi dan duduk di depan Manda dengan rokok diapit di antara kedua jemarinya. Manda menatap wanita itu seksama dengan perasaan cemas dihatinya.

Mereka berbicara bahasa Inggris.

"What is your name?" tanya wanita itu sembari menghisap rokoknya.

"Ma.. Manda." Jawabnya tergagap.

"What are you doing here, Manda?" tanyanya lagi yang kini menghembuskan kepulan asap rokok pekat itu tepat diwajahnya.

"Uhuk.. uhukk.." Manda yang tak suka merokok itu pun langsung batuk.

Sontak semua wanita di sana tertawa melihat ekspresi lugu Manda. Manda mengibas-ngibaskan tangannya agar asap rokok itu pergi dari penciumannya.

GRAB! "Ahh.." wanita itu memegang kedua pipi Manda kuat hingga bibirnya mengerucut.

"Answer." Ucap wanita itu lagi menatapnya tajam.

"Aku.. aku diusir suamiku. Aku akan segera pergi." Jawab Manda ketakutan dan langsung memundurkan tubuhnya hingga cengkraman wanita itu terlepas dari kedua pipinya.

Manda berdiri dan bergegas keluar dari tempat itu terburu-buru. Manda memeluk tasnya erat dan berlari sekencang-kencangnya menghindari segerombolan wanita yang tampak menyeramkan itu.

"Boss, kau membiarkannya pergi?" tanya salah satu wanita gangster itu.

"Biarkan saja. Dia terlalu lemah untuk ikut bersama kita." ucap ketua gang itu.

Semua orang mengangguk setuju. Mereka pun masuk ke dalam pintu rahasia dalam gedung itu.

Disisi lain,

Manda berlari ditengah gelapnya malam, ia sampai ngos-ngosan. Manda merasa bahwa segerombolan wanita tadi tak mengejarnya. Manda pun menghentikan langkahnya. Ia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia berkeringat banyak karena terus-terusan berlari.

Manda sangat lapar. Ia masih memakai jam tangannya. Ia kembali teringat akan kenangan dengan mantan suaminya dulu, Adam. Jam tangan yang ia pakai adalah pemberiannya saat ulang tahunnya yang ia rayakan bersama kedua orang tua Adam.

Manda kembali sedih bahkan air matanya hampir menetes. Ia tak menyangka Adam begitu jahat padanya. Mengambil semua hartanya bahkan mengusirnya. Manda terus berjalan tanpa arah. Pandangannya kosong tak menentu, tanpa sadar ia menemukan sebuah bar yang buka 24 jam. Manda pun segera mendatangi bar itu.

Bar itu sepi. Hanya ada 2 orang lelaki sedang bermain bilyard dan seorang bartender di sana. Manda mengacuhkan 2 orang itu dan berjalan perlahan ke meja bartender.

"Sir, bisakah saya minta chicken burritos?" tanya Manda lirih.

"Yes, wait a minute." Jawabnya pelan.

Manda lega ia bisa menemukan makan malam sebagai pengganjal perutnya.

Tak lama chicken burritos pun datang. Manda makan dengan lahab bahkan hanya dalam hitungan menit makanan itu langsung habis. Bartender itu sampai melolot melihatnya.

"Kau punya uang kan untuk membayar semua makanan ini?" tanya bartender itu karena Manda langsung memesan 4 sekaligus.

Manda mengangguk cepat. Masih mengunyah makanan dalam mulutnya, Manda membuka tasnya. Ia teringat kata Adam saat mengusirnya, ia memberi segepok uang. Manda terkejut. Ternyata jumlah uang itu hanya senilai 1 juta rupiah saja. Hati Manda kembali sedih, ia bahkan hampir menangis.

2 lelaki yang bermain bilyard itupun mendatangi Manda.

"Kami bisa mentraktirmu jika kau mau menemani kami. Kau cukup cantik." Ucap salah satu pria yang mulai menggodanya dan menatapnya penuh maksud.

Manda langsung mengambil selembar uang dan memberikannya pada bartender itu.

"Apakah ini cukup?" tanya Manda terlihat panik.

"Yep." Jawabnya santai sembari mengambil uang itu.

Manda langsung berdiri dan pergi tergesa dari bar itu. Ternyata 2 orang pemain bilyard mengikuti Manda. Manda ketakutan dan mulai melangkahkan kakinya dengan cepat. 2 lelaki itupun dengan cepat mengejar Manda. Manda ketakutan dan iapun berlari sekencang mungkin.

"Wah, kau membuatnya menjadi sulit sayang. Sudahlah.. kau nanti lelah tak bisa memuaskan kami." Ucap salah seorang dari mereka yang memiliki brewok dan tato di kedua lengannya.

"Oh my God.. oh my God.." Manda berlari semakin kencang. Ia ketakutan setengah mati.

Kedua lelaki itu tertawa sambil berlari kencang mengejar Manda dan GRAB! "NOOO! LET ME GO!" Teriak Manda sekencang-kencangnya.

Namun malam sudah sangat larut. Tak ada satu orangpun melintas di sana. Manda ditangkap oleh mereka berdua dan langsung dibungkam mulutnya. Manda ditarik ke sebuah gang gelap dekat bangunan di sana. Manda meronta berusaha melepaskan diri.

"Let me go, bastard!" pekik Manda marah.

PLAKK! "Agh.." Manda merintih terkena tamparan kuat di pipinya.

Bekas lebam dari Adam belum hilang dan kini harus bertambah lagi dari lelaki yang tak ia kenal. Salah seorang lelaki itu merebut tasnya.

"Kembalikan tasku!" teriak Manda lantang.

"Wow ada uang disini. Tak banyak tapi bisa untuk membeli minuman." Ucap salah seorang laki-laki sembari mengambil uang dari dalam tas Manda.

Manda marah, ia berusaha merebut kembali tasnya tapi lelaki yang memegangi tangannya malah mendorongnya kuat hingga ia terjatuh, BRUUKKK! "Agh.."

Salah seorang dari mereka mulai melepas kemeja kotak-kotak dan juga sabuknya. Manda merangkak mundur di gang sempit dan gelap itu. Ia kembali menangis. Ia sadar bahwa ia akan berakhir mengenaskan.

"No.. please.. no.." Tangis Manda menyayat hati.

"Yes.. oh yes baby.." Jawab lelaki itu.

Teman lelaki itu malah tertawa terbahak melihat kelakuan temannya. Ia hanya berdiri menyender pada dinding dan memasukkan uang Manda dalam saku celananya.

"Kau tak ikut?" tanya lelaki yang sudah mengeluarkan miliknya, siap menerkam Manda.

Manda menangis sedih. Ia sudah terpepet pada gang buntu itu. Ia pun berdiri perlahan merayap dengan punggung sebagai senderannya. Manda tak bisa kabur.

"HELP!" Teriak Manda sekencang kencangnya.

2 lelaki itu kaget. Seketika lelaki yang sudah setengah telanjang itupun langsung mendatangi Manda dengan langkah cepat dan PLAKK! Ia kembali menampar Manda dan langsung membungkam mulutnya.

"Akan ku robek mulutmu jika kau berani berteriak lagi." Ucapnya mengancam.

Manda menangis terisak. Lelaki itu mulai menelanjangi Manda tapi Manda masih berusaha menggagalkan usahanya.

CRAUKK.. "Aagghhh!" lelaki itu menjerit, Manda menggigit tangannya hingga lecet.

Baju atas Manda sudah robek hingga terlihat bra nya. Manda kembali mengatur nafasnya. Ia mencari benda apapun untuk bisa melindungi dirinya. Saai ia melihat sebuah kotak kayu dan akan mengambilnya, lelaki itu kembali mendatanginya dan mendekapnya kuat dari belakang. Ia mulai mengarahkan miliknya dibalik rok setinggi lutut yang dipakai Manda.

"HELP!" Manda kembali berteriak dan mencoba melepaskan dekapan kuat lelaki itu.

Kembali lelaki itu membungkam mulut Manda rapat. Manda tak bisa berkutik. Kejantanan lelaki itu sudah menyentuh pantatnya, Manda menangis terisak tiba-tiba.. DOR! Semua orang tertegun seketika.

Lelaki yang berusaha memperkosa Manda langsung roboh dengan peluru bersangkar di punggungnya. Manda langsung membalik tubuhnya dan melihat mata lelaki itu terbelalak dan menahan sakit di punggungnya.

Seseorang mendatanginya dan DOR! DOR! DOR! Manda membungkam mulutnya. Ia terkejut dan ketakutan dalam waktu yang bersamaan. Lelaki itu tewas ditembak dengan 4 buah peluru bersangkar di punggungnya. Teman lelaki satunya telah tewas ditusuk perutnya oleh seseorang yang berdiri di ujung lorong itu.

Manda merapatkan pakaiannya. Ia kaget setengah mati ternyata orang yang menembak itu adalah wanita yang ia temui di gedung terbengkalai tadi. Manda menatapnya seksama dengan jantung bedebar kencang.

"Hallo bitch." Ucap wanita itu menyapa Manda.

Manda hanya berdiri mematung dan menatap wanita itu seksama tak bisa berkata apa-apa.

"Hmm.. mau ikut denganku? Aku bisa memberikan perlindungan padamu, tapi ada konsekuensinya." ucapnya sembari menyarungkan pistol disamping paha kanannya.

"Aku terima." Jawab Manda tanpa pikir panjang.

Wanita itu tersenyum menyeringai dan membalik badannya. Segerombolan wanita yang ada di gedung tadi sudah berdiri di ujung lorong menatap mereka berdua seksama. Manda diam menelan ludah. Ia bingung dengan kondisi ini.

"Berikan ucapan selamat datang, pada anggota baru kita, Manda." Ucap wanita berambut keriting itu sambil merentangkan kedua tangan.

"Wohooo!" sorak sorai terdengar dari ujung lorong.

Wanita itu melirik Manda sekilas dan berjalan melenggang meninggalkannya.

"Follow me, bitch." Ucapnya santai.

Manda menghembuskan nafas panjang. Ia pun mengikuti wanita itu yang berjanji akan memberikannya perlindungan entah apa yang harus ia lakukan sebagai imbalannya Manda tak mau pikir panjang.

Next chapter