webnovel

OH MY BOSS!

Jelita tidak akan pernah menyadari, jikalau hidupnya dipenuhi hal-hal penuh teka-teki. Seumur hidupnya lahir di negara Indonesia, kali pertama dia harus berjumpa seorang pria yang bercukupan. Jelita tidak menyangka bahwa dia harus berurusan dengan CEO menyebalkan, apalagi meminta dirinya menjadi kekasih pura-pura demi menghindari perjodohan dari orangtuanya. Lalu, bagaimana nasib Jelita? Apakah dia bersedia menerima permintaan dari CEO nya? **** Cerita baru tak bermutu Buat cerita 19 Juli 2019. Imajinasi konyol yang tak berharga!

Lsaywong · Urban
Not enough ratings
7 Chs

OMB - 04.

"Oh my Oh my kenapa aku  ketemu dia lagi!"- batin Jelita rasanya dia ingin hilang seumur hidup.

Ardian bangkit dari kursinya kemudian menyandarkan pantatnya di meja panjang. Melipat  tangannya, terus memandang wajah dari ujung kaki hingga ujung kepala gadis itu sekira usia dua puluh tahun.

Pertama kali mengumpat di depan kantor bersumpah serapah akan bangkrut perusahaannya, kedua kemari tanpa izin mengambil ciuman pertamanya, ketiga mengajak berkenalan tertunda karena mendadak alasan untuk interview. Sekarang dia sudah di depannya tidak bisa berkutik lagi.

"Welcome to my Office, tugas mu hari ini melayaniku," ucap Ardian membuat Jelita mengangkat kepalanya.

"Hah? Memang kau pikir aku itu--"

"Ingat, apa yang kau lakukan di malam minggu kemarin?"

Wajah Ardian sangat dekat dengan wajah Jelita, gadis itu tercengang. Sebab embusan napas pria bermata elang ini mengenai wajahnya.

"Iiii--itu tidak sengaja, karena  spontan tanpa sadar," jawab Jelita terbata menghindar dari tatapan Ardian.

Ardian senyum miring, "Benarkah? Tapi, kau sudah mengambil ciuman pertamaku!"

"Aku tidak tau itu ciuman pertamamu, jangan menyalahkan ku, ciuman pertamaku juga sudah di rebut olehmu! Jadi impas tidak ada yang perlu di ributkan!" balas Jelita berusaha untuk tidak gugup.

"Baiklah, kalau itu katamu sudah impas, tapi menurutku belum, daripada diperpanjang," ucap Ardian menyerahkan kertas kepada Jelita.

Jelita menerimanya dan mulai membacanya kemudian melebarkan dengan syarat paling konyol tidak pernah ada.

"Kau gila! Aku tidak bisa! Ini tidak sesuai dengan yang aku--"

Jelita tercengang kembali kali ini wajah pria ini semakin dekat. "Lakukan atau kau mendapat hukuman lebih dari luar syarat itu?"

"Eh ... Itu ... Apa tidak ada cara lain, selain surat perjanjian itu? Aku melamar di sini untuk bekerja, bukan sebagai ...." Jelita mencari alasan lain. Berat pastinya, dia sudah senang bisa jika dirinya akan diterima pekerjaan di sini, tetapi ... nasibnya tertimpa tangga sendiri.

"Bagaimana? Setuju? Mana kertasnya?" Ardian memajukan telapak tangan panjangnya.

Jelita masih menimbang-nimbang soal syarat di kertas putih itu. Bukan dia setuju atau tidaknya masalahnya. Masih ragu untuk menyerahkan surat kontrak yang telah di tanda tanganinya.

Ardian mulai merekah diwajahnya, bahagia sesuatu telah berhasil membuat gadis tanpa malu menyetujui nya. Ini akan buat kedua orang tuanya tercengang nanti.

"Tapi, tunggu dulu!" Padahal Ardian sudah berhasil meraih kertas HVS itu malah harus di tarik kembali oleh gadis cantik depannya.

Wajah Ardian berubah tajam arah gadis cantik putih susu itu, "Apalagi?" Nada kesal oleh Ardian.

"Terus bagaimana gaji ku? Sementara aku mengajukan gaji sesuai dengan pekerjaan office girls. Sedangkan kau memberikan tugas tambahan di kertas aneh tanpa persetujuan sepihak, kau seharusnya tau zaman sekarang serba ekonomi itu meningkat tajam ... Kau tidak mungkin menyiksa aku dengan cara, karena kejadian malam minggu kemarin, bukan?" terang Jelita menjelaskan secara lengkap kepada pria tinggi tampan itu.

Kalau soal perhitungan bagi Jelita ini paling pintar selain itu dia juga cerdas ... Dia memang tidak meminta memosisikan tempat setara dengannya, karena bagi dirinya pendidikannya itu tidak sesuai jabatan tinggi.

"Soal gaji mu kau tenang saja, sekarang tugasmu itu ikut denganku ke suatu tempat," jawab Ardian langsung meraih kertas dari tangan gadis cantik itu.

"Eh ... Tapi ... Pak ..."

Ardian tidak beri waktu kesempatan untuk gadis itu berbicara lagi, Ardian telah keluar dari kantor ruangannya sementara Jelita masih kesal dan menghentikan kaki kanannya kuat-kuat.

"Nyebelin banget sih!" kesal Jelita berlari kecil menyusul pria itu telah menjauh.

****

Tepat di perantara parkiran  Jelita berdiri tak jauh dari mobil  Ardian. Sementara pria itu merogoh sesuatu. Jelita malah bengong bukan karena tidak pernah melihat mobil milik CEO itu.

"Nih!" Ardian melemparkan sebuah benda pada Jelita. Spontan Jelita menangkapnya secara babi buta.

Ardian masuk ke mobil posisi di samping pengemudi. Jelita malah makin bengong saat melihat sebuah kunci berbentuk tengkorak. Ardian mengeluarkan kepalanya dari jendela dan menatap Jelita.

"Hei! Apa yang kau bengong kan? Ayo cepat!" perintahnya.

"Maksud bapak? Ini?" Jelita malah balik bertanya kepada Ardian.

"Ya pasti itu kunci? Kau bisa menyetir, kan?" jawab Ardian kembali menanyakan.

Tak pikir panjang Jelita pun menyusul masuk ke mobil dan memasukan kunci dan dihidupkan mesin tersebut.

Ardian pun memasangkan tali pengaman ketika mobil itu keluar dari area basemen tersebut. Cuaca siang  benar-benar sangat panas, jika Jelita melihat luar jalan mungkin kulitnya bakal hitam dan gosong kecokelatan.

Dalam perjalanan Jelita membawa mobil Ardian tersedat-sedat beberapa kali setiap berada jalan raya. Sehingga membuat Ardian maju kedepannya dan terpental mundur sangat kuat  sampai pundak lehernya terbentur oleh sandaran tempat duduknya sendiri.

"Kau itu bisa menyetir apa tidak sih?!" sengit Ardian memegang pundak lehernya sedikit tergeser urat-uratnya.

"Eh... Itu... tentu bisa, cuma... Aku itu sudah lupa bagian mana  yang harus di pakai rem, starter, gigi satu atau dua," jawab Jelita terbata.

"Ya sudah, biar aku saja! Aku mengira kau itu bisa menyetir tapi ternyata ..."

"Aku bisa kok, Pak. Katanya ini tugas sebagai seorang staf bukan. Sebentar lagi hampir sampai beberapa kilometer lagi kok," potong gadis manis itu.

****

Sebuah rumah yang unik dan modelnya modern banget kayak zaman dahulu bentuknya mirip rumah Belanda. Tembok dan pintunya masih bagus. Jelita melangkah kedua kaki perlahan-lahan sambil melirik sekeliling tempat ada di dalam rumah ini. Sementara si Ardian sedang mengobrol dengan seorang pelayan bertugas sebagai perjamuan tamu yang datang.

Jelita masih sibuk dengan kegiatannya melihat-lihat barang antik yang jaman dahulu sebelum peperangan, banyak lagi barang yang unik dinikmati oleh Jelita. Bukan karena dia seperti orang kampungan tidak pernah melihat barang seperti ini.

Pria yang berdiri tidak jauh dari tempatnya masih memperhatikan gadis manis putih susu itu sibuk dengan kegiatannya. Padahal Ardian datang kesini untuk bertemu seseorang dan dia harus di repot kan oleh gadis kampungan itu.

"Kau suka barang itu?" Seseorang mengejutkan gadis manis itu yang tengah memegang sebuah cangkir keramik bergambar bunga anggrek tersebut.

"Ah! Tidak, hanya menarik untuk dilihat," sahut Jelita meletakkan kembali cangkir keramik itu.

Pria itu masih memperhatikan wajah gadis manis itu. Kemudian dia meminta seorang pelayan mendekatinya.

"Bungkus cangkir itu!" pinta Ardian kepada pelayan itu.

"Baik, Pak!" Pelayan itu mematuhi apa yang di minta oleh pria itu. Namun Jelita mendengar dan menoleh kembali kepada pria masih berdiri belakang nya.

"Tidak usah, aku hanya tertarik bukan berarti harus membeli. Kembali kan, jangan di bungkus. Bapak ini kenapa sih, aku baru pertama kerja sudah aneh-aneh saja. Pacar bukan, tunangan juga bukan, aku tidak perlu belas kasihan darimu!" Ucap gadis manis itu dan meminta pelayan untuk tidak membungkus cangkir yang dia lihat tadi.

Pria itu menatap pelayan itu antara mendengar dari siapa dulu Ardian atau Jelita. "Bungkus saja, siapa yang mau beli untukmu. Jangan kegeeran dulu, aku beli untuk seseorang bukan untukmu pengawal sepertimu!" Perintah Ardian lebih menyakitkan dari apa yang Jelita dengar.

Kedua telinga Jelita memerah karena merasa dipermalukan sama pria gila ini. Jelas-jelas dia mendengar kalau barang antik itu untuknya sekarang  ...

Awas kau, sabar, jangan terbawa emosi... Batin Jelita pada diri sendiri.

Pria itu berputar badan kembali ke tempat duduknya dari balik wajah tersimpan senyuman. Mengerjai gadis manis berkulit putih susu itu adalah sebuah momen paling indah untuknya. Entah rencana apalagi yang membuat dia bisa lebih dekat dengan gadis itu.

***