1 01 : Opini dan Rencana Bunuh Diri

Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku yakin dan percaya bahwa realita itu indah, hidup itu penuh akan momen-momen manis yang tak ter-elakkan. Sekarang aku merasa ingin pergi saja… meninggalkan semua yang telah kutuai di dunia ini, menghilang begitu saja tanpa jejak dan tanpa memusingkan apapun. Aku ingin tertidur nyenyak dan tenang selamanya tanpa ada perkara-perkara hidup yang siklusnya begitu menjengkelkan dan membuatku jerah.

Saat ini aku bisa saja menentukan hidup dan matiku. Cukup dengan melangkahkan kaki ku kedepan, membuat diriku jatuh tertarik gravitasi ke bawah jembatan setinggi tujuh meter yang dibawahnya mengalir sungai yang tenang yang air nya berwarna hijau toska, menandakan bahwa sungai itu sangat dalam. Sangat cocok untuk kujadikan tempat untuk menenggelamkan atau menghanyutkan diriku yang tak ada lagi niat untuk melanjutkan hidup ini yang penuh dengan problema.

Hidupku ini penuh dengan drama, kebusukan, kepalsuan, kebohongan, dan omong kosong. Sungguh, aku hanyalah orang bodoh, iblis, pengecut, pecundang, dan PEMBUNUH!! Aku sudah tak tahu lagi mana yang harus kulakukan dan tidak kulakukan. Sepertinya syaraf otak ku yang mengontrol kewarasanku sudah lama putus dan bermasalah, mungkin aku sudah GILA!?

Itulah opini yang terus terngiang-ngiang dalam benakku setiap aku berdiri di atas besi pembatas jembatan ini. Setiap hari aku selalu datang ke tempat ini merenungkan hidup ku dan merenungkan keputusan yang harus ku pilih, apakah hari ini aku akan meloncat dan mati saja ataukah kembali turun dan menunda rencana bunuh diriku untuk hari ini dan datang dilain waktu untuk mengulangi hal yang sama.

Aku tidak takut untuk mati, aku menunda rencana bunuh diriku bukannya tanpa alasan. Aku punya alasan tersendiri, alasan kenapa aku mesti menunda kematian ku untuk sementara waktu. Bukannya aku menghindar dan takut untuk meloncat kebawah, tapi aku merasa masih ada hal yang harus kuselesaikan sebelum beristirahat dengan tenang dalam kematian. Memang terdengar naif jika harus membandingkan dengan opini ku yang begitu benci dengan hidup ini.

Hal yang harus kuselesaikan itu adalah, tentang apa yang harus kupertanggung jawabkan demi menebus semua dosa dan keburukan yang telah kuperbuat selama hidupku. Mungkin cerita hidupku tidaklah penting bagi sebagian orang. Tapi aku tahu diluar sana akan ada banyak orang lainnya yang bisa mengerti dan memahami jalan hidup yang telah kupilih.

***

Sedikit perkenalan dariku, Aku adalah seorang mahasiswa, seorang penulis, seorang jurnalis, seorang fotografer, dan seorang desainer grafis. Singkatnya aku adalah orang yang multitalenta. Bahkan aku pun seorang aktivis dikampus. Aktif di HMJ(Himpunan Mahasiswa Jurusan dan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Oleh karena itu aku cukup terkenal dikampus, aku punya relasi yang cakupan pergaulannya cukup luas. Itu karena aku adalah orang yang sosialis, seringkali aku selalu dicap sebagai orang yang cerdas, pintar, dan kreatif karena banyaknya pencapaian membanggakan yang telah ku raih.

Adapun kehidupanku diluar kampus, aku sebagai seorang jurnalis, penulis novel, dan fotografer lepas yang bekerja sendiri dan sukses dalam hal penghasilan untuk hidup. Mungkin bisa dibilang aku adalah pemuda yang cukup sukses untuk orang-orang seusiaku. Bisa dibilang aku adalah pribadi yang sempurna dan yang menjadi dambaan orang-orang.

Mereka mengenalku hanya sebatas tampilan luar saja, tidak dengan yang didalam. Bagiku, mereka yang mengagumi dan mengapresiasi diriku hanyalah sekumpulan orang-orang yang bodoh dan mudah untuk tertipu daya. Buat apa kalian mengagumi diriku ini yang dimana aku sendiri sangatlah benci dengan diriku sendiri. Aku tidak pernah bisa membanggakan apa-apa untuk kuperlihatkan kepada orang-orang, aku hanya ingin tenang, tenang, tenang, dan sangat tenang.

Semua pencapaianku saat ini kuraih dengan melalui berbagai macam perjuangan yang membebani fikiran. Ada banyak luka dan air mata yang terlewatkan demi pencapaian yang saat ini terasa tidak berarti apa-apa. Semua hanya terasa hampa dan penuh akan omong kosong. Bagaimana tidak, kalau sepanjang perjuanganku kulalui dan kuselesaikan sebagai seorang pemabuk dan perokok. Intinya aku merasa proses yang kulalui selama ini untuk mewujudkan mimpi-mimpiku sangatlah sia-sia.

Aku mulai mengenal yang namanya dunia permabukan dan pergaulan bebas sejak aku masih anak sekolahan, waktu itu aku masih kelas 11 SMK di daerah asalku. Jauh sebelum aku merantau di kota metropolis ini,Makassar. Menyinggung tentang masa lalu ku yang cukup terlampau jauh, itu adalah awal dari apa yang kuhadapi saat ini. Aku masih ingat saat itu, masa-masa yang penuh kebodohan dan kegilaan. Semuanya bermula ketika aku bersahabat dengan beberapa orang yang pola fikir dan masalah-masalah hidupnya sama dengan ku.

Entah kenapa, aku merasa sangat geram dan emosi terhadap diriku sendiri ketika mengingat semua yang pernah terjadi. Dia, dan , dia,(tak bisa ku sebutkan namanya) tapi merekalah orang yang membuat ku masuk kedalam dunia permabukan dan dunia yang tak beres ini, merekalah yang telah merusak hidupku, aku merasa marah dan menyesal pernah bergaul dan bersahabat dengan mereka , tapi itu semua sudah berlalu dan aku tak ingin mendendam kepada mereka. Mungkin ini memang naskah yang telah Tuhan tuliskan untuk perjalanan hidup yang harus kujalani.

Dan sampai saat ini pun aku tetap menjadi pecandu obat-obatan, aku mengkonsumsi sepuluh hingga lima belas biji sekali teguk, obat yang mengandung dextromethorphan ataupun pil-pil lain yang efeknya membuat perasaan lega dan melayang-layang. Aku biasanya menggunakannya sebagai pemicu semangatku untuk beraktifitas dan menyelesaikan kesibukan ku yang benar-benar padat jadwal deadline. Disinilah peran obatku yang selalu memberikan gairah untuk terus aktif dalam beraktifitas.

Yah, itulah salah satu kebusukan dibalik semua kesuksesanku saat ini, itulah yang membuatku merasa jengkel dan resah terhadap nasibku, dan ujung-ujungnya berencana untuk bunuh diri. Sungguh, aku memang bodoh!! Bodoh, bodoh, bodoh, dan sangat bodoh!! aku benci dan takut dengan diriku sendiri, aku begitu rusak. Psikologisku terasa terganggu, mungkin aku tidaklah sehat dalam fisik dan mental. Aku bukanlah orang yang hidupnya sejahtra dan baik-baik saja. Mungkin terlihat seperti itu, tapi sebenarnya semua hanyalah omong kosong.

Pernah, dan bahkan selalu terniatkan untuk berhenti dari kebiasaan burukku ini. Aku ingin sekali berhenti merokok dan lepas dari yang namanya ketergantungan obat-obatan. Tapi rasanya tubuhku menolak dengan sendirinya, aku seperti kerasukan iblis yang mengendalikan tubuhku. Aku tidak bisa mengelak dan melawan. Sungguh tubuh dan batinku cukup tertekan ketika waktu putus obat tiba, orang biasanya menyebutnya sakau. Disaat aku sedang sakau sekujur tubuhku akan terasa lemah dan sakit di setiap persendian, dan juga meriang. Aku sangat benci kondisi ini ketika harus beraktifitas, aku menjadi serba malas dan tak bergairah lagi. Dan saat itupun aku butuh obatku.

Jika sedang butuh aku bisa mendapatkan obatku dengan cara yang sangat mudah. Aku cukup keluar dari rumah dengan santainya mengendarai motorku dan menuju ke apotik terdekat yang ada. Tapi itu jika yang punya apotik orangnya orang cina. Beda dengan pemilik apotik yang asli daerah sini soalnya mereka tidak memperjualbelikan dengan bebas obat itu, apalagi untuk anak-anak.

Menjadi pecandu obat membuatku merasa malu terhadap diriku sendiri, seakan-akan aku mencoreng nama baik Mahasiswa, gelar yang saat ini kusandang, tapi oleh karena itu ketika ingin meminum obatku aku memilih untuk meminumnya sambil sembunyi-sembunyi. Tidak ada yang tahu kalau aku mengkonsumsi obat, selain mereka yang dulu mengajakku masuk kedalam lingkungan yang konyol ini.

Berbicara tentang rasa malu, aku sangat malu dan tak percaya diri terhadap diriku sendiri ketika bertemu orang baru dan menganggap diriku adalah orang yang sikapnya baik. Aku merasa geli dan tidak enakan, aku seperti ingin lari dan bersembunyi dari tatapan-tatapan mereka yang membuatku merasa disudutkan. Memang ini hanya bayanganku tapi aku merasa bahwa aku memang salah dan memalukan, aku tidak tahu harus bagaimana agar menjaga image tentang diriku bagi orang lain.

Entah kenapa aku terkadang merasa tidak percaya diri, padahal biasanya kalau dalam forum atau sedang bersosialisasi dengan orang yang lain aku tetap percaya diri dan berani, bahkan komunikasi ku dengan orang lain cukup baik. Mungkin inilah yang namanya manusia memang tidaklah sempurna. Seperti yang dikatakan orang banyak "di atas langit pasti ada langit yang lebih tinggi." Jika mengingat pepatah tersebut aku sadar bahwa aku orang yang selalu mencoba untuk bersikap dewasa, sederhana, penuh tenggang rasa, dan selalu ingin berbuat baik kepada orang-orang tanpa harus memandang perbedaan yang ada.

Aku bukanlah orang yang rasis, diskriminatif, ataupun apatis. Aku tak suka dengan orang yang seperti itu, meskipun banyak teman dan kenalan ku yang seperti itu. Begitulah kehidupan ini, kita akan selalu dihadapkan dengan hal yang tak pernah sesuai dengan ekspektasi. Ironis memang, semuanya tidak bisa kita hindari begitu saja. Bersikap apatis hanya membuat semuanya menjadi semakin miris. Bersikap kritis dan lebih peka terhadap sekitar kita adalah salah satu kunci untuk mendapatkan kedamaian, mau itu secara pribadi ataupun secara social.

Adapun soal kehidupan pribadiku dalam hal asmara, semuanya bagiku terasa baik-baik saja, karena aku adalah tipikal orang yang bodo amat terhadap hal-hal alay soal percintaan seperti novel-novel percintaan yang popular dikalangan para remaja yang baru gede'(ABG). Kehidupan asmaraku cukup lucu bagiku jika aku mengingat kembali tentang semua perempuan-perempuan cantik yang pernah ku pacari. Tapi aku tidak memandang kecantikan perempuan dari segi fisik dan ekonomi, tidak seperti orang lain yang tak pernah menghargai perempuan. Tapi kebetulan semua mantanku orangnya cantik-cantik dan manis, hahaha.

Mungkin delapan belas orang adalah jumlah yang terlalu banyak bagi sebagian orang dan mungkin menganggapku sebagai seorang playboy, haha hentikanlah fikiran kalian yang sempit itu, aku memang sudah memacari banyak tipe perempuan diluar sana. Tapi aku tidak pernah menduakan mereka yang ku pacari, hanya saja ada yang jangka waktu pacaran kami sangatlah singkat karena adanya ketidakcocokan lagi. Sehingga aku pun mencari penggantinya lagi dalam waktu yang singkat juga, mengapa ? itu karena aku bersikap bodo amat jika berhadapan dengan yang namanya putus cinta. Bukannya tidak sayang, toh kan buat apa aku merintih dan berharap pada orang yang menyia-nyiakan perjuanganku.

Aku selalu risih terhadap orang yang terlalu kritis pada hal-hal yang berbau percintaan, yang membuat keadaan seakan-akan begitu dramatis padahal yang mereka persoalkan Cuma tentang cinta, cih apa guna dari semua itu ? dasar budak cinta, ujung-ujung nya nanti ketemu sama orang baru eh tau-taunya jatuh hati lagi. Hahaha, sungguh lucu siklus ini. Tapi sudahlah, aku tidak terlalu peduli dengan hal itu. Saat ini aku hanya jatuh hati pada seseorang. Dia yang sangat unik, dia yang membuatku tercengang dengan pola fikirnya, dia yang humoris dan asik di ajak ngobrol. Dia yang mengerti dan menerima diriku ini yang tidak punya sesuatu untuk dibanggakan. Yah itulah, dia… Selfi.

***

Next chapter