35 Strange man.

***

Sore saat Luna memutuskan untuk mandi meski masih ada Riska di ruang tamu, ia membiarkan laki-laki itu duduk sendirian di sana setelah Ashila serta Fredy keluar karena sebuah urusan. Gelang tridatu yang sempat dibelinya saat di Bali kini melingkar di pergelangan tangan kiri Riska, sisanya ada di tangan Luna, bukankah mereka benar-benar romantis?

Riska masih bergeming di sofa tanpa melupakan rasa bosannya sampai ia tak sengaja membungkuk melihat beberapa majalah di sandaran kaki bagian bawah meja ruang tamu, menumpuk sekitar lima majalah. Satu hal yang mencuri perhatiannya adalah majalah paling atas dengan cover bergambar Meira, sepertinya gadis itu memang ada di mana-mana. Mengapa Luna memilikinya? Mungkin saja ia ingin tahu lebih jauh tentang saudara tirinya.

Tangan Riska terulur menyentuh majalah tersebut, kostum yang Meira kenakan berbeda dengan kostum yang pernah Riska coret-coret menggunakan spidol permanen beberapa waktu lalu meski tetap saja mimik wajah serta posenya begitu sensual.

Tempo hari Riska hanya melihat cover, tapi kali ini ia membuka lembar demi lembar isi majalah tersebut setelah melihat sub judul di dekat foto Meira.

'Ingin tahu lebih jauh tentang kehidupan si cantik Meira? Dia buka-bukaan lho.' Kira-kira seperti itu judulnya, jadi pasti ada wawancara tertulis yang bisa Riska baca di lembar majalah tersebut.

Beberapa lembar memang memperlihatkan banyak model lain dengan segala isi wawancara, dan mereka buka-bukaan tentang adegan ranjang dengan pasangan. Riska semakin berpikiran lain, lagipula sejak pertama mereka berinteraksi Riska sudah memojokannya dengan beragam kata sarkas seperti kebanyakan orang yang selalu menjudge Meira adalah makhluk paling salah di dunia.

Begitu sampai di halaman tempat wawancara tertulis Meira berada, Riska menelan ludah. Ekor matanya melirik ke arah pintu kamar Luna, masih aman saat suara kran air terdengar deras bak air hujan. Fokus Riska kembali pada majalah, ia membacanya dalam hati sampai beberapa pertanyaan serta jawaban yang Meira bagi membuat kening Riska mengerut.

1.Mey pernah melakukan blow job?

: Enggak, nggak penting.

2. Sudah berapa banyak pria yang mengencani kamu, Mey?

: Banyak kok, aku menyenangkan banget mungkin ya, hahaha.

3. Apa sesuatu yang lebih mendalam pernah kamu lakukan dengan teman kencanmu?

: Enggak, mereka hanya teman. Hal yang lebih eksplisit harusnya dilakukan sama pasangan yang kita cintai, kan?

5.Siapa yang lebih panas saat di ranjang, kamu atau pasanganmu?

: Hahahaha, nggak ada. Aku nggak pernah main sama siapa pun, mungkin banyak banget yang nggak percaya,

but, i'm used to the harsh words of many, they often think i'm bad. It's okay, obviously i'm honest with myself, if that man really loves me he can

accept what is and not what is visible to the eyes.

Seketika Riska menutup majalah tersebut meski ada wacana lainnya di bawah jawaban yang baru saja membuat relungnya berkecamuk. Ia meletakan lagi majalah di tempat semula seraya mendesah tatkala menyugar rambutnya. Tiba-tiba saja pening mendera, dan entah apa yang kini membuat isi kepalanya terasa panas untuk memikirkan sesuatu.

***

Aktivitas manusia di lapangan basket Kampus Malaka kembali berlangsung pagi ini, ada Riska serta teman-temannya, tapi seseorang tak lagi muncul di sana setelah kejadian di kelas kosong yang baru saja selesai di bangun beberapa waktu lalu. Rayi tak pernah memunculkan batang hidungnya setelah hari itu, entah bagaimana—mungkin kemarahan Riska terhadapnya mampu menimbulkan efek jera.

Seperti kata pepatah, ada gula ada semut. Maka tatkala mahasiswa tampan beradu keahlian mereka dalam permainan bola basket—di situlah banyak mahasiswi turut serta mendukungnya di tepi lapangan, bahkan sosok yang tak pernah muncul pun pernah sekali memperlihatkan batang hidungnya di sana meski berakhir dibully, sekarang ia tak pernah muncul lagi, kenyataan tak memiliki alasan yang tepat mengapa Meira harus berada di antara banyaknya mahasiswi nan sibuk memberikan sorak-sorai semangat untuk pemain favorit mereka.

Meira baru tiba di parkiran, ia melangkah santai setelah turun dari mobilnya, saat itu sepasang kaki mulai melewati sisi lapangan, tapi Meira sama sekali tak menoleh untuk sekadar menatap orang-orang di lapangan, beda halnya dengan Riska yang sengaja menghentikan aksinya hendak menembak bola ke ring lawan hanya karena sepintas melihat kedatangan Meira, ia sampai kehilangan bola dan skor yang seharusnya didapatkan.

Meira datang ke kantin, anehnya tak ada satu pun sahabatnya duduk di tempat biasa. Mereka ke mana? Mey menghubungi mereka satu per satu, sayangnya tak seorang pun menjawab panggilan telepon Meira, alhasil ia mengalah dan mencari teman-temannya yang entah hilang ke planet mana.

Gadis itu berkeliling seorang diri sampai mengecek satu per satu toilet di fakultasnya, tapi tetap tak menemukan satu di antara ketiga temannya sampai pikiran Meira berpacu pada satu tempat, alhasil ia terpaksa datang ke sana. Dari teriakan orang-orang saja sudah membuatnya jengah, padahal ia sudah pernah menegur Selly serta Tania yang pernah menonton basket di awal-awal pertemuannya dengan Riska.

Meira menatap ke arah lapangan saat ia melangkah di koridor, ia menerobos kerumunan mahasiswi sebelum menemukan ketiga temannya benar-benar berada di sana dalam kondisi yang membuat Meira pening setengah mati, mereka bahkan memiliki yel-yel untuk menyemangati tim favorit.

"Ya ampun, Selly! Tania! Mona!" Meira meledak juga, ia berdiri tepat di depan ketiga temannya seraya berkacak pinggang seperti ibu kost yang menagih tunggakan uang, untung saja Meira tak bersanggul.

"M-Me, Mey?" Tania tergugu menatap Meira dari ujung kaki hingga kepala, ia hanya memastikan jika sosok tersebut adalah temannya.

Raut panik juga menghiasi rupa Selly. "Kok lo bisa tahu kita ada di sini sih?"

"Mey, tadi mereka berdua yang ajak gue ke sini, ya udah gue nurut aja daripada sendirian di kantin." Mona membela diri, raut penyesalan muncul di wajahnya.

"Gue cari kalian sampai ke closet toilet, tapi malah di sini. Selly sama Tania kayaknya enggak jera udah pernah gue ocehin." Ia mendelik menatap bergantian sosok pemilik nama yang disebutkan.

"Ma-maaf, Mey," tutur Selly, "habisnya seru aja, apalagi Riska tuh—cowok yang pernah tolongin elo waktu itu, di tempat ini juga kan?" Selly seolah memaksa Meira mengingatnya, padahal di belakang mereka—Meira baru saja mengakhiri kisahnya dengan Riska, wajah gadis itu berubah sendu.

"Wah iya, gue juga ingat banget tuh pas Riska bopong si Mey ke ruang kesehatan," timpal Tania tak mau kalah.

"Udahlah nggak usah diingat-ingat, nggak penting. Mending sekarang balik ke—argh!" Bola basket menyentuh punggung Meira, fokus semua orang lantas mengarah padanya termasuk pemain basket, pasalnya mereka menyadari jika Riska sengaja melempar bola tersebut ke arah Meira, dan entah apa tujuannya. "Siapa yang lempar gue!"

"Dia lagi?" Selly terheran-heran disertai tatapan mengarah lurus di depannya—pada sosok Riska yang kini melangkah menghampiri Meira.

Meira menoleh dan baru menyadari manusia yang dimaksud Selly sudah berdiri tepat di belakangnya, mereka saling membalas tatapan dalam radius beberapa centi saja. Atmosfer sekitar seolah terhenti, orang-orang seakan menjadi patung yang berperan sebagai saksi bisu pertemuan mereka setelah sehari sebelumnya hanya saling menatap tanpa kata.

Riska memungut bola basketnya tanpa menghentikan tatapannya pada Meira yang masih bungkam. "Sorry," ucap laki-laki itu sebelum menyingkir dari hadapan Meira yang seolah terhipnotis olehnya.

"Ternyata Riska lebih menarik kalau dilihat dari jarak dekat, ya." Suara Mona menyadarkan Meira jika tak hanya ia yang berada di lapangan basket bersama Riska.

"Iya, Mon. Lo nggak ada minat jadiin dia cowok lo yang kedua, kan?" Selly angkat bicara.

"Bener banget, Mona kan lagi butuh cowok pengganti," imbuh Tania.

Tanpa sadar sepasang tangan Meira terkepal mendengar obrolan teman-temannya, eboni gadis itu masih menuju Riska yang kini kembali melanjutkan urusan basket. Apa yang baru saja terjadi tak lagi asing bagi Meira, tak lagi semenarik dulu, dan laki-laki itu bukanlah orang yang bisa membuat Meira bertahan lagi di sana, sebab ia memutuskan melenggang dari hadapan ketiga temannya tanpa mengajak atau mengatakan sesuatu pada mereka.

"Lho, kok dia main pergi gitu aja," ucap Selly, "kita susulin aja yuk, jangan-jangan Meira ngambek nih." Alhasil mereka berlari pontang-panting menyusul Meira yang sudah melangkah cukup jauh, beberapa kali teriakan terdengar menyerukan nama Meira, tapi gadis itu seolah tak mendengar dan terus sana melangkah tanpa menoleh sedikit saja.

***

Pukul sebelas siang kelas Meira baru saja bubar, gadis itu berpisah dengan teman-temannya, ketiga teman lain juga memiliki agenda sendiri, sedangkan Meira tak memiliki agenda pemotretan, tujuannya hanya untuk pulang ke apartemen.

Ia melangkah sendirian menghampiri parkiran mobil, di keluarkannya kendaraan tersebut dari sana setelah duduk di balik kemudi, sialnya saat mobil hendak menghampiri gerbang Meira terpaksa menginjak rem mendadak dan membuat keningnya membentur kemudi sebab kelalaiannya tak memasang seat belt. Alhasil kini kening Meira terasa berdenyut dan kemerahan.

"Sialan!" Ia mengumpat kesal, ditatapnya kendaraan yang membuat Meira hampir celaka tadi, rupanya sebuah motor berserta pemiliknya yang masih bertahan di sana—di depan mobil Meira.

Mengapa kejadian hari ini seperti fragmen yang mengapung kembali? Mengapa ia hendak menabrak Riska lagi?

Meira membeku di tempatnya, niat hati untuk turun dan memaki-maki ia urungkan setelah menyadari siapa sosok tersebut. Saat Meira sadar dari keterdiamannya—ia menekan klakson berkali-kali sebagai pengingat jika ia ingin lewat, dan Riska menyadari hal tersebut, ia kembali melajukan motornya menjauh dari sana—membawa ingatan yang sama.

***

Next chapter