1 1. Kurir Jasa Ekspedisi Biasa

Sebut saja aku ini adalah orang gila, orang gila karena berani mempertaruhkan hidup bersama adikku di sebuah kota sinting dengan segala macam kekacauan dan ketidak masuk akalannya.

Beberapa hari yang lalu, aku mengantarkan paket ke sebuah area perumahan dan tak kusangka sebuah kapal mendarat tepat di depan wajahku!

Aku tidak tahu dari mana asal kapal itu, apalagi pelabuhan berada sangat jauh dari sana, tetapi hal tersebut masih kalah mencengangkan jika dibandingkan dengan hal-hal lain yang terjadi setiap harinya di sisi kota yang lain. Sial bagiku, sebab hari ini aku berada di sisi lain tersebut.

"Awas! Awas! Awas! Gedung runtuh! Gedungnya runtuh!"

"Minggir dari sana, jika kau tidak mau mati hari ini!"

"Jangan jadi orang tuli di sini, kalau masih mau bernafas sampai besok!"

Seruan beberapa orang dari seberang jalan tidak kuhiraukan, pandanganku tetap fokus ke depan menatap jalan sambil mengendarai sepeda motor butut peninggalan ayahku dengan laju stabil.

Di saat bersamaan, kudengar bunyi bata-bata pecah dan tembok yang runtuh di seberang jalan di mana beberapa orang tadi berteriak memperingatkan.

"Hei, manusia! Apa yang kau lakukan?! Tancap gasmu! Kenapa masih berkendara selambat itu?!"

"Kau tuli atau buta?! Lihatlah, ada gedung yang mau runtuh di atasmu!"

Aku tidak tuli, tidak pula buta. Aku tahu ada gedung yang sedang runtuh ke arahku, namun aku memilih mengabaikannya.

"Otak udang, kau akan membiarkan dirimu tertimpa reruntuhan!"

Laju sepeda motor tuaku tidak bertambah cepat meskipun teriakan demi teriakan peringatan berkumandang.

Dinding beton yang retak saat perlahan-lahan jatuh semakin keras mengertak. Tapi, tak sedikit pun perasaan gentar kurasa, meski aku tahu bahwa sebentar lagi material-material yang sedang berjatuhan itu akan menimpaku.

Aku tidak peduli, namun bukan berarti aku sepenuhnya mengabaikan gedung yang runtuh itu. Aku hanya berusaha percaya pada "keajaiban" kota ini.

Benar saja, beberapa saat kemudian sesosok makhluk raksasa terbang melahap gedung itu seperti seekor paus memangsa jutaan plankton di lautan. Aku pun selamat dan terus mengendarai sepeda motorku seperti biasa, meski harus terbatuk-batuk karena menghirup debu yang terhempas oleh makhluk raksasa itu.

Kedengarannya memang gila, tapi inilah kenyataan yang ada di Neo Batavie, sebuah kota surrealis di mana batas antara imaji dan realita adalah tidak ada!

Etika? Apa itu?

Aturan? Hanya sedikit diterapkan.

Hukum? Tidak dihargai!

Moralitas? Hampir tidak ada!

Kota ini, adalah hutan rimba yang sesungguhnya! Aku bahkan hampir tidak percaya bagaimana masyarakat Neo Batavie masih bisa hidup dengan semua kekacauan ini, sungguh di luar nalar.

¤¤¤

Bab 1 : Paket Misterius

Gunawan mengetuk pintu apartemen itu beberapa kali, sambil menyahut siapapun yang tinggal di dalamnya. Namun, sampai beberapa menit terus melakukan hal yang sama Gunawan tidak mendapat balasan apapun.

Gunawan hendak pergi meninggalkan apartemen itu sampai tiba-tiba saja dirinya mendengar suara kunci pintu yang terbuka. Seorang wanita tua pun muncul dari balik pintu apartemen, dirinya tersenyum pada Gunawan lalu meminta maaf karena sudah membuatnya menunggu. Gunawan tidak mempermasalahkan hal tersebut.

"Ini paket Anda, Nyonya Lam ... Lampreough?" Gunawan mengernyitkan dahi membaca nama si pemilik paket.

"Yang benar adalah Lampro." Wanita tua itu mengoreksi.

"Ah, iya, iya. Maafkan aku Nyonya Lampro. Ini paket Anda."

Lampro menerima paket tersebut dengan senyum lebar menghiasi wajahnya, tidak lupa dia berterima kasih pada Gunawan. Setelah itu, Gunawan berniat pergi meninggalkan Lampro. Akan tetapi, wanita tua itu menghentikannya dengan alasan ingin mengajak minum teh.

"Maaf, Nyonya tapi sepertinya aku tidak bisa melakukannya. Ada banyak paket yang harus kukirim hari ini, aku takut pengirimannya nanti jadi telat. Sekali lagi, aku minta maaf dan permisi."

Ekspresi wajah Lampro yang tadinya ramah dan penuh dengan senyum, mendadak berubah. Seakan-akan dirinya tersinggung oleh penolakan Gunawan.

Lampro pun menyengkram tangan pemuda itu, menghalanginya untuk pergi dan memaksanya masuk untuk minum teh bersama.

"Nyonya, kumohon lepaskan. Aku harus mengirimkan barang. Kumohon lepaskan tanganku sebelum aku—"

"Tidak masalah bila kau pergi," potong Lampro. "Tapi, tidak sebelum kau menikmati teh bersamaku."

"Nyonya, lepaskan tanganku atau akan kupanggil pihak berwajib," ancam Gunawan.

Akan tetapi, Lampro tidak menghiraukan ancaman itu dan terus memegangi tangan Gunawan. Dirinya malah menjadi semakin marah, cengkramannya menguat membuat Gunawan merasa kesakitan.

"Hei, kubilang lepaskan aku, Nyonya! Apa yang salah denganmu?!"

Lampro mendesis, "Jika kau tidak mau menemaniku, maka aku yang akan memaksamu!"

Dalam hatinya, Gunawan menggerutu kesal. Dia harus bertemu dengan orang aneh sekali lagi dalam karirnya sebagai seorang kurir jasa pengiriman barang. Hal ini membuatnya ingin berhenti menjadi kurir, akan tetapi dia tak bisa melakukannya begitu saja sebab akan sulit bagi Gunawan untuk mencari pekerjaan baru di kota yang orang sebut sebagai "Kota gila bising dan aneh" ini.

Keributan antara Gunawan dan Lampro terjadi untuk beberapa menit, sampai akhirnya kemudian Gunawan berhasil melepaskan cengkraman wanita tua itu. Namun, di sinilah masalah baru dimulai.

"Kau ... kau anak muda keterlaluan! Beraninya menyakiti perempuan tua lemah tak berdaya sepertiku," rintih Lampro yang menangis karena Gunawan melepas tangannya secara paksa.

"Kau sendiri yang bersikap aneh, memaksaku menemanimu minum teh. Aku punya kesibukan sendiri, Nyonya! Aku tidak punya waktu untuk sesuatu tak berguna seperti pesta teh kecilmu itu!"

Perkataan Gunawan melukai hati Lampro begitu dalam. Tangisannya bertambah kencang, wanita tua itu kemudian merengek-rengek seperti anak kecil yang dilarang ibunya membeli mainan di pasar.

Melihat Lampro demikian, Gunawan menjadi panik sebab takut jika ada orang lain melihat mereka akan salah sangka. Dia tidak ingin dianggap telah menyakiti seorang wanita tua sampai membuatnya menangis, itu akan jadi masalah yang merepotkan baginya. Gunawan tak ingin reputasinya hancur dan disebut-sebut sebagai pemuda tak berhati tukang menyakiti wanita tua.

Merasa cemas sebab Lampro terus menangis, Gunawan pun hendak memintanya untuk berhenti. Namun, tiba-tiba saja wanita tua itu menatapnya dengan tajam. Sorot matanya menunjukkan amarah serta kemurkaan.

"Dasar anak muda biadab, kau akan menerima akibatnya telah menyakiti hatiku!" seru Lampro.

"Tunggu, apa—"

Gunawan yang kebingungan tidak sempat menyelesaikan perkataannya, sebab sesaat kemudian mata serta mulut Lampro menyala terang membuat Gunawan kaget.

"Oh, sial!"

Gunawan pun meloncati teralis besi tangga apartemen dan terjun dari lantai dua. Menakjubkannya, dia sama sekali tidak terluka walau mendarat cukup keras di atas beton trotoar.

Gunawan dengan begitu cepat menaiki sepeda motor bututnya, lantas segera menyalakannya dan memacu sepeda motor itu secepat mungkin.

"Kau akan mati di sini, anak muda!"

Lampro dengan mata, hidung dan mulut yang menyala-nyala turun dari lantai dua apartemen ke jalanan. Dirinya kemudian meneriaki Gunawan berbagai macam kata hinaan, sebelum duduk berjongkok dengan kedua tangan menumpu di depan.

"Matilah!"

Dari semua lubang di wajahnya, Lampro menembakkan pancaran cahaya panas yang menghancurkan semua hal di jalur lintasannya.

Gunawan menaikkan kedua alis karena rasa takut luar biasa yang dia rasakan menyaksikan pancaran energi penghancur itu melesat dengan begitu kencang ke arahnya. Jalan yang lurus membuat Gunawan tidak mampu pergi ke mana-mana, dia pun berakhir dilibas oleh pancaran energi itu bersama segala hal lain yang dilewatinya.

¤¤¤

Neo Batavie adalah sebuah kota metropolitan yang terletak di bekas sebuah negara yang dulunya disebut sebagai Zamrud Katulistiwa. Tapi, kini negara itu telah luluh lantak dan segala kejayaannya lenyap ditelan oleh zaman.

Di Neo Batavie, semua orang hidup sebagaimana masyarakat kota pada umumnya. Hanya saja, kegilaan di kota ini jauh lebih mencengangkan daripada di kota-kota lain yang ada di dunia. Tingkat kriminalitasnya sangat tinggi, polusi udara merajalela, kawasan padat penduduk menjamur di berbagai sudut kota karena penduduknya yang begitu banyak dengan jumlah kematian setiap harinya yang sangat tinggi.

Hal tersebut, tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa kota Neo Batavie adalah tempat tinggal tidak hanya bagi manusia namun juga para makhluk yang disebut sebagai Exodian. Mereka sebenarnya memiliki berbagai macam jenis dan ras, namun manusia menggeneralisasi makhluk-makhluk ini dengan sebutan Exodian–yang mana malah menciptakan ketegangan antar spesies.

Konflik antara manusia dan Exodian sudah sering terjadi, apalagi di bagian kota yang disebut sebagai Inner Circle. Letaknya berada di kawasan tengah kota, di mana jumlah kaum manusia dan Exodian yang tinggal di sana sama-sama banyak jumlahnya.

Sebagai seorang kurir jasa pengiriman barang, Gunawan sudah sangat sering mengunjungi Inner Circle dan menyaksikan kekacauan yang terjadi. Jika bukan pertempuran antar kelompok spesies, maka hal di luar nalar lain yang akan ditemuinya. Wanita tua tadi adalah salah satu hal di luar nalar itu.

Gunawan menghela nafasnya sembari merebahkan tubuh ke atas paving-paving yang berserakan. Keadaan di sekitarnya benar-benar hancur berantakan karena tembakan energi wanita tua tadi.

"Apa yang kau lakukan berbaring di situ?"

Ada suara gadis muda yang berbicara kepadanya. Gunawan mengerling ke arah suara itu dan mendapati seseorang yang dia kenal.

"Kau sendiri kenapa berada di sini?"

"Aku pulang sekolah lewat sini. Kakak kenapa berbaring seperti itu, di tengah reruntuhan lagi."

Gadis itu adalah Rachel, adik Gunawan yang masih bersekolah SMA. Dia saat ini berada di kelas 11. Itu cukup menakjubkan mengingat situasi di Neo Batavie yang tak pernah kondusif. Ditambah, keadaan finansial keluarga Gunawan yang tidak begitu stabil. Apalagi, sekarang hanya tersisa Gunawan seorang sebagai pencari nafkah.

"Beberapa saat yang lalu ada seorang Exodian tua menembakku memakai laser. Aku tidak apa-apa, kau pulang saja dan jangan cemaskan aku," ujar Gunawan biasa-biasa saja.

Tentu, hal ini tidak bisa dimaklumi oleh Rachel. Meskipun realita yang ada di sini mampu membuat seseorang kehilangan nalar mereka, akan tetapi Rachel adalah salah satu dari sekian orang yang sadar bahwa kehidupan di sekitarnya tidaklah lazim dialami oleh manusia.

"Kakak bicara seperti itu seolah ini semua adalah hal normal. Apa kakak tidak sadar kita seperti tinggal di sebuah sirkus kekacauan? Sebaiknya kakak pulang dan rawat dulu luka-lukamu."

Sikap Rachel yang perhatian selalu membuat Gunawan menyunggingkan senyum. Di tengah absurditas yang memaksa semua orang menanggalkan logika dan nalar mereka, masih ada manusia seperti adiknya yang menjadi acuan Gunawan untuk menjaga kewarasannya.

"Ah, iya. Kau benar, Rachel. Maafkan aku."

Gunawan berdiri sambil memegangi tangan kirinya yang terputus.

Next chapter