webnovel

30 Days In December | Jaehyun

Kedatangan robot humanoid tampan bernama Jeffrey membawa perubahan dalam hidup Anna, segalanya terasa lebih mudah. Kehidupannya yang mendadak jatuh dan berubah drastis dapat teratasi berkat hadirnya Jeffrey, siapa sangka kebersamaan keduanya mendatangkan rasa yang tak terduga. Mereka jatuh cinta, dengan zaman yang terpaut jauh, batas waktu, dan tali takdir yang entah bagaimana caranya agar bisa bertemu dalam ikatan cinta. Dapatkah mereka mewujudkan apa yang ada dalam hati sebelum Jeffrey kembali ke zamannya ?

Byyaann · Fantasy
Not enough ratings
12 Chs

Jeffrey

Anna, Jeno, dan Yuta sudah memperhatikan setiap sisi dari kotak yang ada di hadapan mereka. Namun, tidak ada sedikitpun celah untuk membukanya.

"Biar aku coba buka menggunakan gunting," Ucap Yuta sambil berlalu ke Kamarnya untuk mengambil gunting.

Tuktuktuk.

"Apa benar ini kulkas ?" Tanya Jeno sambil mengetuk-ngetuk kotak.

Anna menggeleng, "Aku tidak yakin, tidak ada merk apapun di kotaknya," Ucapnya.

Jeno mengangguk setuju, "Seharusnya ada merk kulkasnya."

Akhirnya Yuta kembali dengan membawa sebuah gunting, "Nih," Ucapnya sambil memberikan gunting pada Jeno.

"Kenapa hyung ?" Jeno menatap Yuta heran.

"Kau saja yang buka."

"Katanya nii-chan preman kampus, tapi bertemu kotak seperti ini saja ketakutan," Cibir Anna.

Yuta menghela nafasnya, "Preman juga manusia."

Jeno berjalan mendekati kotak, dia mulai menempelkan gunting di kotak tersebut.

Jleb.

Ctar !

Jeno menjatuhkan gunting dan mengibaskan tangannya beberapa kali, baru saja dia melubangin kotak tangannya sudah terkena sengatan listrik.

"Jeno !" Pekik Anna, dia menghampiri Jeno dengan raut wajah panik.

"Gwaenchana ?" Tanya Anna sambil melihat luka di tangan kiri Jeno, hanya luka kecil.

"I---iya, aku baik-baik saja."

"Sudah kita kirim saja kotak ini ke Kantor polisi, aku khawatir isinya berbahaya," Anna mengambil gunting dan menaruhnya di meja.

Yuta mengangguk, "Baiklah, besok aku akan menghubungi Johnny," Ucapnya.

"Aku ambil obat dulu," Anna pergi ke Dapur untuk mengambil kotak P3K, luka di tangan Jeno harus segera diobati.

Setelah itu Anna duduk di samping Jeno, dia membuka kotak P3K dan mengeluarkan krim untuk luka bakar.

"Maaf ya Jeno," Cicit Anna sambil mengoles krim di tangan Jeno.

"Tidak usah meminta maaf, ini bukan salahmu, lagi pula ini hanya luka kecil," Jeno mengusap kepala Anna lembut.

Selesai mengoles krim luka bakar Anna kembali menutup kotak P3K, "Mau menginap saja ?" Tawar Anna.

Jeno menggelengkan kepalanya, "Maunya begitu hehehe, tapi sayangnya besok aku ada janji dengan Jaemin dan Haechan."

•••

Malam semakin larut, tapi Anna belum juga bisa menutup matanya untuk tidur.

Minggu depan dia harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, maka waktu kelulusannya juga akan semakin dekat, dan pastinya waktu untuk Jeno pergi ke luar negeri pun semakin di depan mata.

Anna dan Jeno memang baru menjalin hubungan 8 bulan yang lalu, tapi kebersamaan yang diciptakan selama 8 bulan itu benar-benar membuat Anna nyaman.

Disaat kedua orang tuanya berpisah 3 tahun lalu dan masing-masing sibuk bekerja, Anna hanya tinggal berdua dengan Yuta yang semenjak 2 tahun lalu lebih sering berada di Asrama Kampusnya.

Anna melirik bingkai foto kecil di atas nakasnya, foto dengan semua anggota keluarga yang tersenyum gembira di pesisir Pantai. Anna rindu suasana hangat Rumahnya, suasana saat memasak bersama Mamanya, atau saat berebut remote televisi dengan Papanya.

Clek.

Suara pintu yang terbuka berhasil mengejutkan Anna, dia langsung duduk dan menghadap pintu dengan ekspresi ketakutan.

"Mukamu jelek sekali," Celetuk Yuta sambil berjalan memasuki Kamar.

"Ck, terserah," Anna mendelik sebal, kemudian dia kembali berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

"Nii-chan harus ke Asrama, besok pagi ada kelas dadakan profesor Bulan," Ucap Yuta sambil duduk di ujung kasur milik Anna.

Yuta tahu, Anna tidak suka jika dia harus tinggal sendirian di Rumah.

"Nii-chan sudah belanja keperluan Dapur, jangan lupa sarapan," Lanjut Yuta, tangannya mengusap kepala Anna dengan lembut.

"Iya," Jawab Anna singkat.

"Kalau begitu nii-chan berangkat dulu," Pamit Yuta, dia berdiri kemudian berjalan menuju pintu.

"Ya, hati-hati di Jalan," Jawab Anna tanpa menoleh ke arah Yuta.

Pintu kembali tertutup, tak lama terdengar suara mobil yang keluar dari Garasi, Anna menatap kosong langit-langit Kamarnya, perlahan matanya mulai terpejam.

Bruk.

Bruk.

Bruk.

Suara gaduh dari luar Kamar kembali membangunkan Anna.

Bruk.

Bruk.

Suara gaduh tersebut semakin dekat ke Kamar, Anna buru-buru meraih ponselnya untuk menghubungi Yuta.

Tapi sayang Anna lupa mengisi daya ponselnya, disaat seperti ini hanya ada satu hal yang bisa Anna lakukan.

Berdoa.

'Ya Tuhan, jika memang yang diluar sana adalah orang jahat, kumohon beri dia pencerahan supaya menjadi or---' Doa Anna terhenti, suara gaduh itu sudah tidak ada.

Anna bernafas lega, pundaknya yang tegang sekarang kembali rileks.

Clek.

'Tuhan lindungi hamba,' Anna merapatkan matanya, mengepalkan kedua tangan dan melanjutkan doa-doanya.

'Papa, Mama, maaf aku belum bisa membahagiakan kalian, nii-chan, Jeno, Popo, teman-teman, maaf aku sering memarahi kalian, seandainya aku harus mat---' Doa Anna lagi-lagi terhenti, ada tangan yang menyentuh puncak kepalanya.

Dengan sisa-sisa keberaniannya, Anna perlahan membuka matanya.

"Nona Anna ?"

Sesosok pria dengan kemeja putih dan celana hitam duduk di depan Anna, tangan kirinya berada di atas kepala Anna.

Anna membelalakan matanya, dengan cepat Anna menggeser tubuhnya mundur.

Brak.

Anna terjungkal ke belakang karena dia sudah berada di ujung Kasur. Pria tadi langsung berdiri dan menghampiri Anna, dia menggendong Anna dan menempatkannya di Kasur.

"Gwaenchana ?" Tanyanya khawatir.

Anna mengangguk, dia masih dalam mode was-was, takut jika pria ini maling, tukang culik, atau bahkan hantu.

"Ini," Pria tersebut memberikan sepucuk surat pada Anna, dari amplopnya bisa ditebak jika harganya sangat mahal.

Suratnya terlihat sangat berkelas, amplop berwarna merah dengan garis emas. "Ini bukan bom," Ucapnya sambil mengambil tangan Anna dan menempatkan surat itu disana.

Dengan ragu Anna membuka surat tersebut, kelihatannya ini memang bukan bom karena tidak ada apapun selain kertas di dalam amplop tersebut.

"Ucapkan 'selamat datang' untuk memulai program dan 'selamat tinggal' untuk mengakhiri progam.

*Program hanya bisa diakhiri setelah bulan November 2020."

Alis Anna menukik tajam, mencoba mencerna apa yang surat itu maksud.

'Jadi dia ini robot ?' Pikir Anna sambil menatap pria di hadapannya, wajahnya tampan, rambutnya kelihatan sangat lembut, dan tubuhnya kelihatan sangat tinggi.

"Kau ini siapa ?" Tanya Anna ragu.

Pria itu memperbaiki posisi duduknya, dia merapihkan kemeja dan rambutnya, "Saya robot humanoid tipe J-1015, saya diutus dari tahun 2051 ke...tahun berapa ini ?" Tanyanya disela-sela kegiatan memperkenalkan diri.

"2020," Jawab Anna, ekspresi wajahnya tampak begitu keheranan.

"Saya diutus dari tahun 2051 ke tahun 2020 untuk menjaga nona Nakamoto Anna atas perintah tuan ***, panggil saya Jeffrey," Jelas robot bernama Jeffrey tersebut.

"Tuan apa tadi ?" Tanya Anna.

"Tuan ***," Jawab Jeffrey, hanya suara bip bip bip yang keluar dari mulutnya.

Ekspresi Anna tampak semakin heran, alisnya menukik tajam. Tak disangka tangan Jeffrey bergerak mengusap kedua alis Anna, "Jangan memasang ekspresi seperti itu, saraf nona bisa tegang, itu berbahaya."

Jika dilihat-lihat robot ini tampan, sangat tampan malah. Matanya indah, hidungnya terlihat sempurna, bibir...dan sejak kapan robot bisa memiliki lesung pipi ?

"Kau ini benar-benar robot ?" Tanya Anna lagi.

Jeffrey mengangguk, "Iya."

"Bukan penjahat yang mau mencuri di Rumah ini ?" Tanya Anna lagi.

Jeffrey menggeleng, "Bukan nona."

"Tapi aku tidak percaya !" Anna mendesah frustasi, kepalanya terasa pusing harus menerima informasi seperti ini.

Robot humanoid, dikirim dari masa depan, menemani, melindungi, tampan....ya pokoknya sulit dimengerti.

Jeffrey melepas kancing kemejanya, Anna membelalakan matanya, "Ya ! ya ! a---apa yang kau lakukan ?!" Pekik Anna.

Seakan tak mendengar perkataan Anna, Jeffrey terus melepas kancing kemejanya sampai menampakan dadanya, dia kemudian menarik tangan Anna dan menempatkannya di dada---area jantung.

Dingin, itu yang pertama kali Anna rasakan.

"Saya tidak memiliki jantung seperti nona dan manusia yang lain," Ucap Jeffrey.

"Tapi saya memiliki perasaan, sama seperti manusia pada umumnya," Lanjutnya.

Tangan Anna masih berada di dada Jeffrey, dia dapat merasakan samar-samar deru mesin dari dalam tubuh pria di depannya tersebut.

"Jadi...saya tinggal dimana nona ?" Tanya Jeffrey.

'Aaaaaa micheosseo !' Batin Anna frustasi.

Annyeong hehehe

Maaf tadi aku salah publish wkwk, jadi yang gak sengaja ke-publish tadi itu naskah awal yang bahasanya masih belepotan, untung ketauan :)

Oke, terus support buku ini yaaa !

-byyaann

Byyaanncreators' thoughts